Harga Alphard di Jepang Cuma Rp 500 Jutaan, Padahal GDP Lebih Tinggi

Harga Alphard di Jepang Cuma Rp 500 Jutaan, Padahal GDP Lebih Tinggi

Septian Farhan Nurhuda - detikOto
Rabu, 15 Apr 2026 11:49 WIB
Toyota Alphard di Jepang.
Toyota Alphard di Jepang. Foto: Doc. Yahoo
Jakarta -

Harga Toyota Alphard di Jepang jauh lebih murah dibandingkan di Indonesia. Padahal, penghasilan masyarakat di Negeri Sakura masih lebih tinggi dibandingkan di sini. Kok bisa begitu, ya?

Di Jepang, Toyota Alphard dibanderol mulai 5,1 juta yen atau sekira Rp 540 jutaan. Sementara di Indonesia, kendaraan premium tersebut ditawarkan mulai Rp 1,2 miliaran atau 2 kali lebih mahal dibandingkan harga di negara asalnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kenyataan tersebut mendapat sorotan Agus Purwadi selaku pengamat otomotif senior dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Sebab, gross domestic product (GDP) di Jepang mencapai US$ 4,2 triliun, sementara Indonesia hanya US$ 1,4 triliun.

"Aneh kan? Orang Jepang income-nya lebih tinggi dari kita, tapi beli Alphard yang sama harganya lebih murah dari kita. Mungkin argumentasinya karena Alphard produksi sana, tapi nggak seperti itu juga," ujar Agus Purwadi di Senayan, Jakarta Pusat.

ADVERTISEMENT

"Terus yang lebih aneh lagi, ada mobil diproduksi di Indonesia, pas diekspor ke Thailand harganya lebih murah. Ini kan sudah jelas kalau ada something wrong," tambahnya.

Toyota meluncurkan Alphard Hybrid tipe XE sebagai varian termurah dari lini MPV premium tersebut di ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026.Harga Toyota Alphard di Indonesia. Foto: Rifkianto Nugroho/detikFoto

Menurut Agus, perbedaan angka tersebut disebabkan beban pajak yang tinggi di Indonesia. Bahkan, kata dia, 40 persen dari total harga kendaraan di dalam negeri berasal dari pungutan tersebut.

Agus mengklaim, beban pajak yang ideal di Indonesia seharusnya berkisar 15-20 persen. Nominal itu mengacu dari sejumlah negara yang secara ekonomi mirip-mirip Tanah Air.

"Padahal Jepang transportasi publiknya luar biasa bagus. Jadi artinya beli mobil memang mahal, harus orang kaya. Tapi mereka nggak gila (soal pajak kendaraan), mereka tetap rasional," tuturnya.

"Kenapa Jepang bisa begitu? Karena policy mereka yang dipajakin adalah economic activity-nya. Bukan alat-alat yang justru membuat economic activity-nya mahal. Jadi nggak produktif," kata dia menambahkan.




(sfn/rgr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads