Polusi udara di Jakarta menjadi topik pembahasan beberapa waktu terakhir ini. Kualitas udara di Jakarta dan sekitarnya terbilang buruk. Kendaraan bermotor menjadi penyumbang terbesar pencemaran udara.
Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin, atau yang akrab disapa Puput, mengatakan setidaknya 47 persen polusi udara atau sekitar 19.165 ton/hari bersumber dari kendaraan bermotor. Setelah sepeda motor yang menyumbang 45 persen polusi dari kendaraan, truk juga menjadi penyumbang polusi terbesar kedua.
"Sepeda motor adalah polluter terbesar, diikuti oleh truk dan bus sebagai kendaraan diesel menyumbang polutan yang cukup besar," kata Puput.
"Secara umum, ketertinggalan teknologi mesin kendaraan yang tidak sesuai dengan spesifikasi kendaraan rendah emisi, dan buruknya kualitas BBM--rendah angka oktan/cetane, tinggi kadar belerang, benzene dan aromatic--serta kemacetan lalu lintas telah meningkatkan intensitas pencemaran udara," ujarnya.
Menurut Puput, truk-truk besar yang menyumbang pencemaran udara masih berkeliaran di Jakarta. Mungkin tidak di pusat kota karena ada larangannya, tapi lihat di Tol JORR atau tol menuju Pelabuhan Tanjung Priok, truk-truk banyak beredar. Truk yang melintas dari timur ke barat seperti ke Sumatra atau sebaliknya pun tetap lewat Jakarta.
Sayangnya, truk over dimension over load (ODOL) yang menyumbang kemacetan dan polusi lebih besar masih berkeliaran. Larangan truk ODOL tidak diatur dengan tegas.
"Truk ODOL itu juga memicu 20 persen pencemaran udara. Truk ODOL, yang membuat pemborosan BBM, memicu 20 persen pencemaran udara," ujar Puput kepada detikcom, Senin (21/8/2023).
Tak cuma kelebihan muatan, truk-truk tersebut juga mengkonsumsi bahan bakar yang lebih kotor, yaitu biosolar. Puput menganggap, biosolar tidak lebih ramah lingkungan.
"Pernyataan untuk menekan emisi dari kendaraan truk dan bus pakai bahan bakar biosolar itu salah. Harusnya menggunakan Pertamina Dex. Ya memang (Pertamina Dex) mahal," sebut Puput.
Puput menilai, biosolar merupakan BBM kotor. Sebab, kadar sulfur pada produk BBM itu masih tinggi.
"Biosolar itu kan biodiesel yang sulfurnya nyaris nol, kemudian dicampur dengan solar yang sulfur kontennya itu 1.800-an ppm. Jadi kalau dicampur, memang ada penurunan sulfur. Tapi penurunannya itu dia cuma 500-600 ppm. masih tersisa skitar 1.300 ppm. Sementara regulasi kita ini mengharuskan kadar belerang atau sulfur konten pada BBM itu maksimal 50 ppm. Kalau 1.300 itu masih 26 kali lipat dari standar. Makanya asapnya hitam, menyebabkan polusi," jelas Puput.
Apalagi, truk-truk ODOL menggunakan mesin yang besar. Mesin besar dikasih makan BBM kotor maka hasilnya juga akan menyebabkan udara kotor.
"Kalau kita lihat di JORR nggak henti-hentinya (truk ODOL). Kemudian di jalan tol arah Tanjung Priok itu kan truknya padat. Dalam konteks ini harus dievaluasi penggunaan biosolar tadi. Jangan sampai demi mengeluarkan BBM murah, kita tidak bisa mengendalikan pencemaran udara," pungkas Puput.
Simak Video "Video Berantas Tuntas Truk ODOL: Cari Solusi Bukan Cuma Sanksi"
(rgr/din)