ADVERTISEMENT

KNKT Ungkap Hasil Investigasi Kecelakaan Maut Truk Balikpapan

Ilham Satria Fikriansyah - detikOto
Jumat, 24 Jun 2022 21:32 WIB
Sopir Truk Tronton Balikpapan Tersangka, Ini Fakta Terbaru Kecelakaan Maut
Momen kecelakaan horor tuk di Balikpapan menggantam banyak kendaraan (Foto: dok. istimewa)
Jakarta -

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap hasil investigasi kecelakaan maut yang melibatkan truk dan sejumlah kendaraan bermotor di Balikpapan. KNKT menyebut kecelakaan ini disebabkan kesalahan pengemudi truk.

Kecelakaan maut ini terjadi pada 21 Januari 2022, di Simpang Rapak, Balikpapan, Kalimantan Timur. Akibat kecelakaan mengerikan ini, 4 orang meninggal dunia dan 30 lainnya mengalami luka berat dan ringan.

Dilansir Antara, Plt Kepala Sub Komite Investigasi Lalu Lintas Angkutan Jalan KNKT Ahmad Wildan mengatakan, ada sejumlah faktor yang menyebabkan kecelakaan horor itu terjadi. Di antaranya kegagalan sopir truk dalam mengantisipasi kondisi jalan yang berupa turunan panjang.

"Pengemudi gagal mengantisipasi hazard pada jalan berupa turunan panjang dengan memanfaatkan teknologi yang dipersiapkan oleh otomotif," kata Wildan dalam konferensi pers daring.

Lebih lanjut, Wildan memaparkan hasil analisa atas insiden tersebut, terungkap bahwa sopir truk tengah menggunakan gigi tiga di jalan yang menurun. Kondisi tersebut membuat sopir melakukan pengereman panjang dan berulang kali.

Petugas mengevakuasi truk tronton bernomor plat KT 8534 AJ setelah mengalami kecelakaan di Turunan Rapak, Jalan Soekarno-Hatta, Balikpapan, Jumat (21/1/2022). Kecelakaan yang diduga karena truk mengalami rem blong itu mengakibatkan lima orang tewas. ANTARA FOTO/HO/Novi A/pras/nym.Petugas mengevakuasi truk tronton bernomor plat KT 8534 AJ setelah mengalami kecelakaan di Turunan Rapak, Jalan Soekarno-Hatta, Balikpapan, Jumat (21/1/2022). (Foto: ANTARA FOTO/NOVI ABDI)

Selain itu, dari investigasi KNKT ditemukan bahwa truk tersebut tidak mengalami masalah pada sistem pengereman. Namun, ditemukan kondisi tekanan angin pada tabung angin rem hanya sebesar 5 bar dari ambang batas minimal 6 bar. Lalu, celah kampas truk di atas 2 mm dari ambang batas sebesar 0,4 mm hingga 0,6 mm.

Wildan menyebut dalam kondisi normal celah antara kampas dan tromol tidak bermasalah, tetapi saat digunakan secara berulang maka akan mempercepat penurunan tekanan angin. Tekanan angin di bawah ambang batas menyebabkan pengemudi kesulitan menekan pedal rem, sebab bantuan pneumatic untuk mendorong minyak rem sudah tidak ada.

"Memindahkan ke gigi rendah dalam posisi ini sangat tidak mungkin karena synchromesh tidak akan merespons. Rem tangan juga tidak akan menolong," papar Wildan.

Menurut Wildan, kontur jalan berbukit dengan panjang landai juga sangat berisiko bagi kendaraan besar mengalami kegagalan menanjak ataupun mengerem saat menurun. Apalagi, jalan tersebut juga dilalui oleh berbagai macam jenis kendaraan, mulai dari sepeda motor hingga truk.

"Karakteristik lalu lintas yang bercampur antara kendaraan besar dan kendaraan kecil dapat meningkatkan fatalitas pada saat terjadi kecelakaan," pungkas Wildan.



Simak Video "Penampakan Truk Pertamina Kecelakaan di Semarang, 1 Orang Tewas"
[Gambas:Video 20detik]
(din/din)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT