ADVERTISEMENT

Kelebihan dan Kekurangan Bus Double Glass

Luthfi Anshori - detikOto
Selasa, 26 Apr 2022 03:10 WIB
Jakarta -

Bus double glass menjadi tren di industri transportasi darat Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini. Bus dengan kaca depan ganda ini memiliki kelebihan dan kekurangan, baik di mata penumpang maupun dari pihak operator busnya.

Seperti disampaikan Technical Director Laksana, Stefan Arman, bus double glass memiliki keunggulan dari sisi tampilan yang gagah. Sebab dengan dua kaca bertumpuk di depan, bus jadi terlihat lebih padat dan berisi.

"Memang ada kekurangan kelebihannya, yang double glass lebih ke arah desain estetika. Dengan adanya bando (sekat) itu, tampilan bus dari luar lebih gagah dan menambah estetika tertentu," kata Stefan di Kantor Pusat Laksana, Ungaran, Semarang (19/4).

Lalu bagaimana dengan kekurangan bus double glass? Menurut Direktur Utama PT SAN Putera Sejahtera (PO SAN), Kurnia Lesani Adnan, ada beberapa kekurangan bus double glass, utamanya dari sisi teknikal.

"Bicara dari sisi teknikal--kami operator bus dari Sumatra--di mana jalanan masih banyak yang berliku, dengan kaca dua atas bawah ini, satu dari sisi maintenance (perawatan) ini akan agak ribet," buka pria yang akrab disapa Sani dalam kesempatan yang sama.

Menurut Sani, di jalanan Sumatra masih ditemui aksi kejahatan, di mana ada beberapa kasus kaca depan bus dilempari batu oleh Orang Tidak Dikenal (OTK). Jika kaca depan bus double glass sudah rusak atau pecah, maka cukup sulit dari sisi perawatannya.

PO SANBus double glass PO SAN Foto: Ahmad Masaul Khoiri/detikcom

"Dengan kaca (depan) dua ini ternyata pertama tidak lebih murah, kedua proses penggantiannya (juga) tidak lebih mudah. Di situ kami dari sisi teknis menganggap (double glass) itu tidak efisien," sambung Sani.

"Lalu dengan double glass, penumpang juga merasa tidak nyaman, karena kalau double glass--bus yang HDD, lantainya tidak tinggi--maka pandangan penumpang pas di tiang. Ketika melewati jalan berliku (di Sumatra), itu akan membikin penumpang mual, kepala pusing," ujarnya lagi.

"Sisi terakhir, karena jalan yang di luar kebiasaan dan panjang bus (premium) yang wheellbase-nya 6,2 meter, sehingga pada saat curving, body rolling, twisting lebih besar, kaca depan itu ruang geraknya agak lebih besar, sehingga sering terjadi crack. Ini fakta," ungkap Sani.

"Terakhir kita analisa, kita minta testimoni penumpang, kita lakukan observasi, kita bilang sama Pak Stefan (Laksana), (bus) ini harus tetap single glass. Alhamdulillah Laksana mengikuti aspirasi yang kami sampaikan, lahirlah SR2 Panorama Series. Jadi menurut saya, jalanan di Indonesia lebih ideal pakai single glass, sehingga penumpang lebih nyaman," tukasnya.

(lua/din)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT