Dear Pertamina, Operator Bus di Sumatra Ngeluh Solar Langka Nih

Luthfi Anshori - detikOto
Senin, 27 Des 2021 09:41 WIB
Bus tronton PO SAN buatan karoseri Laksana
Operator bus Sumatra mengeluhkan kelangkaan solar. Foto: Laksana
Jakarta -

Operator bus di Sumatra mengeluhkan kelangkaan solar yang sudah terjadi dalam beberapa bulan terakhir ini. Langkanya solar membuat operasional bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) terganggu.

Seperti dikatakan Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI), Kurnia Lesani Adnan, kelangkaan solar di Sumatra sudah terjadi sejak beberapa bulan lalu. Kelangkaan solar ini terjadi secara umum di wilayah Sumatra.

"Sudah dari Oktober (2021). Pertengahan tahun juga sempat langka, tapi begitu kita ngomong dan rapat juga sama Pertamina, mulai lancar suplai solar. Nah, Oktober kemarin, mulai masalah lagi, tapi memang tidak separah seperti pertengahan tahun. Kelangkaan solar ini hampir umum terjadi di Sumatra. Yang langka itu solar jenis bio diesel sama dexlite," kata pria yang akrab disapa Sani kepada detikOto (24/12/2021).

Lanjut Sani menjelaskan, telatnya suplai solar di Sumatra disebut-sebut berkaitan dengan kuota suplai untuk akhir tahun yang dibatasi.

"Jadi kalau kita dengar dari operator SPBU, mereka itu suplainya menyesuaikan kuota untuk akhir tahun. Jadi misalnya dia kebutuhannya sehari itu 20 ton, cuma disuplai 10 ton atau 12 ton. Harusnya bisa 24 jam, mereka hanya bisa 15 jam, setelah itu habis, nunggu suplai lagi. Itu yang kemudian membuat terjadinya antrean-antrean (di SPBU)," sambung Sani.

Tidak lancarnya suplai solar ini membuat operasional bus di Sumatra terganggu, terlebih bagi para operator bus yang melayani trayek AKAP dari Sumatra ke Jawa dan sebaliknya.

"Jadi setiap perjalanan, kalau mereka (sopir bus) menemui solar, mereka langsung isi. Jadi sepanjang jalan diisi terus, sehingga pola pengisian solar ini jadi kacau dan itu mempengaruhi ke waktu tempuh perjalanan," kata Sani yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PO SAN.

"Yang kacau ini di titik ujung, seperti saya di Bengkulu. Bengkulu itu suplai solarnya siang baru datang, jadi bus kita dari pagi, bahkan dari subuh itu sudah ngantri. Dapat solarnya baru jam 11, kadang jam 1 siang. Ini yang menjadi masalah, sehingga waktu perbaikan, waktu istirahat jadi berkurang semua," tukas Sani.

(lua/rgr)