Standing Ovation! Industri Otomotif Indonesia Kebal Gelombang PHK

Ridwan Arifin - detikOto
Kamis, 21 Okt 2021 17:34 WIB
Karyawan menjelaskan salah satu produk mobil kepada calon pembeli di salah satu dealer di Jakarta, Senin (15/2/2021). Pemerintah memberikan keringanan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) mobil baru ketegori 4x2 atau sedan dengan mesin sampai dengan 1.500 cc mulai Maret 2021 dengan tiga tahap untuk meningkatkan pertumbuhan industri otomotif dengan local purchase kendaraan bermotor di atas 70 persen. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/hp.
Industri otomotif Indonesia kebal gelombang PHK akibat pandemi (ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA)
Jakarta -

Krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 menghantam berbagai lini bisnis. Tapi Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi menyatakan bahwa pabrikan otomotif di Tanah Air aman dari gelombang PHK (Pemutusan Hubungan Kerja).

Nangoi mengatakan titik balik industri otomotif keluar dari masalah krisis Covid-19 jadi momentum pada gelaran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2021. Seperti diketahui pameran ini juga sempat tertunda selama lebih dari 1,5 tahun.

"GIIAS kali ini mengambil tema wheels to move, luar biasa semua orang bilang dalam ekonomi yang sedang terpuruk maka industri yang akan mati adalah industri otomotif," kata Nangoi saat konferensi pers di Jakarta, Kamis (21/10/2021).

"Dengan bangga saya katakan industri otomotif bisa bertahan bahkan sampai saat ini tidak ada satupun PHK yang terjadi industri otomotif kecuali pegawai kontrak yang habis masa kontraknya tidak diperpanjang lagi ataupun juga pegawai yang sifatnya outsourcing tidak diperpanjang lagi tapi secara overall tidak ada PHK massal di industri otomotif," imbuhnya.

Hal ini didukung oleh kebijakan pemerintah terhadap industri otomotif berupa diskon PPnBM yang sudah berlaku sejak Maret 2021. Karena diskon PPnBM, penjualan mobil naik, permintaan meningkat sehingga industri otomotif yang tahun lalu sempat anjlok kini kembali bergulir.

"Kemenperin mensupport industri otomotif dengan memberikan spesial insentif yang kita sebut PPnBM DTP (Ditanggung Pemerintah), hasilnya bulan September-Oktober penjualannya lebih baik, tapi yang jelas sebelum pandemi penjualan kita per bulan rata rata sebulan 90 ribu unit, bulan April-Mei tahun lalu cuma 5 ribu unit per bulan, di tahun 2021 setelah pandemi Agustus-September 2021 penjualannya kembali di angka 85 ribu," urai Nangoi.

Pulihnya produksi dan penjualan industri otomotif akan membawa dampak yang luas bagi sektor industri lainnya. Nangoi menambahkan dalam menjalankan bisnisnya, industri otomotif dinilai memiliki keterkaitan dengan industri lainnya (industri pendukung).

"Luar biasa support dari pemerintah karena selama masa pandemi pabrik mobil tidak ditutup tapi kita jalankan secara berjenjang, sementara di beberapa negara lain diliburkan," kata Nangoi.

"Industri otomotif adalah lokomotif yang menarik gerbong cukup banyak ada komponen, finance juga, dan begitu banyak usaha yang terkait dengan industri otomotif," ungkap Nangoi.

Diberitakan detikcom sebelumnya, industri otomotif juga merupakan industri padat karya. Saat ini, lebih dari 1,5 juta orang bekerja di industri otomotif yang terdiri dari lima sektor, yaitu pelaku industri tier II dan tier III (terdiri dari 1.000 perusahaan dengan 210.000 pekerja), pelaku industri tier I (terdiri dari 550 perusahaan dengan 220.000 pekerja), perakitan (22 perusahaan dan dengan 75.000 pekerja), dealer dan bengkel resmi (14.000 perusahaan dengan 400.000 pekerja), serta dealer dan bengkel tidak resmi (42.000 perusahaan dengan 595.000 pekerja).



Simak Video "Penjualan Mobil Gaspol Terus, Ini Merek Terlaris di Oktober"
[Gambas:Video 20detik]
(riar/din)