Ini Wujud Kereta Tanpa Rel yang Mungkin Jadi Solusi Macet di Puncak

Tim detikcom - detikOto
Selasa, 29 Des 2020 20:38 WIB
Presiden Korea Utara Kim Jong Un baru saja menjajal kereta tanpa rel atau yang disebut dengan trem di Korea Utara. China sudah punya sebelumnya.
Kereta tanpa rel. Foto: Istimewa/Inhabitat
Jakarta -

Pemerintah punya berbagai macam pilihan solusi untuk mengatasi kepadatan lalu lintas di Puncak, Jawa Barat. Sebab, Puncak masih menjadi destinasi wisata favorit, terutama bagi warga Jabodetabek.

Diharapkan, ke depan kawasan Puncak, Jawa Barat, tak hanya dipenuhi oleh kendaraan pribadi. Lebih dari itu, transportasi umum harus dibenahi.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, untuk jangka panjang, pihaknya juga merencanakan pembenahan sistem transportasi. Penggunaan bus hingga penyediaan lokasi park and ride untuk mengalihkan pengguna kendaraan pribadi ke transportasi umum di Puncak, Jawa Barat, akan disiapkan.

"Bus itu bisa untuk masyarakat yang harganya murah, juga bisa dibuat bus yang mewah. Bahkan kita menyarankan hotel-hotel itu juga memiliki bus agar pengunjung itu tidak menggunakan mobil menuju tempat-tempat itu," kata Budi dalam Webinar "Puncak, Mengapa Diminati Meski Macet Menanti", Selasa (29/12/2020).

Budi juga menyinggung soal kemungkinan Puncak bisa diterapkan autonomous rapid transit (ART) atau kereta tanpa rel.

"Kita berpikir bahwa, bila mungkin kita membuat ART, Autonomous Rapid Transit, suatu kereta dengan menggunakan ban bukan metal, sehingga kapasitasnya besar," kata Budi.

Pertengahan tahun ini perusahaan kereta China, CRRC Corporation, menguji coba kereta tanpa rel pertama di dunia. Sekarang, kereta ini sudah beroperasi untuk umum. Kereta bertenaga listrik ini terdiri dari 3 gerbong dan bisa mengangkut 300 orang sekali jalan.Perusahaan kereta China, CRRC Corporation, menguji coba kereta tanpa rel pertama di dunia. Sekarang, kereta ini sudah beroperasi untuk umum. Kereta bertenaga listrik ini terdiri dari 3 gerbong dan bisa mengangkut 300 orang sekali jalan. Foto: Istimewa/Inhabitat

Mengutip CNBC Indonesia, ART ini akan dikembangkan di Indonesia. Wilayah percontohan pertama dilakukan di Bali.

ART merupakan salah satu teknologi sarana kereta yang baru dikenalkan dan diuji coba oleh CRRC Zhuzhou China, 8 Mei 2018. ART melaju di jalan raya dengan jalur bertanda khusus. ART yang lebih mirip seperti tram namun menggunakan roda karet dan digerakkan dengan tenaga listrik.

Pada 18 Mei 2018, Direksi PT KAI berkesempatan menjajal ART. Setelah kunjungan itu, ada kerja sama antara KAI dengan CRRC Zhuzhou China untuk mengembangkan pengoperasian Tram ART tersebut di Indonesia melalui penandatanganan MoU antara KAI dengan CRRC TEC pada 18 Mei 2018.

Pada 9 Maret 2020 lalu, kajian legal ART yang dilakukan oleh Pustral UGM telah selesai dilakukan dan hasilnya telah dipresentasikan kepada DJKA, Kemenhub pada 7 Mei 2020 lalu.

PT KAI dilaporkan bakal mendatangkan ART buatan China ini untuk dioperasikan di Bali. Direktur Utama PT KAI Didiek Hartantyo menjelaskan bahwa ART bakal menghubungkan Bandara Internasional Ngurah Rai menuju kawasan Sanur.



Simak Video "Sistem One Way Usai, Lalin Simpang Gadog Terpantau Ramai Lancar"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)