Ridwan Kamil: Jangan Tunda Beli Kendaraan, Pajaknya buat Pendapatan Daerah

Yudha Maulana - detikOto
Selasa, 27 Okt 2020 09:06 WIB
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil bicara soal penanganan COVID hingga jadi relawan vaksin.
Ridwan Kamil. Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
Bandung -

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengimbau agar warga tak menunggu-nunggu untuk berbelanja kendaraan, baik motor atau mobil pada saat pandemi COVID-19 ini. Pasalnya, pajak dari kendaraan tersebut akan menjadi pendapatan bagi provinsi yang saat ini kondisinya tengah melempem.

"Termasuk berita dari Kemenkeu yang bunga 0 persen untuk DP kendaraan bermotor. Nggak usah nunggu-nunggu, beli aja mobil motor. Pajaknya menjadi pendapatan provinsi yang sedang menurun. Jadi saya imbau yang siap beli otomotif jangan ditahan," ujar Ridwan Kamil di Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (26/10/2020).

Kang Emil, sapaannya, turut mengajak agar warga yang berada di tingkat ekonomi menengah ke atas untuk membelanjakan uangnya di warung tetangga, atau membeli kebutuhan sandang dan pangan di UMKM-UMKM.

"Menengah ke atas harus rajin belanja di warung, beli baju di UMKM, segala rupa dibelanjakan. Jangan nabung dulu, ini perintah Gubernur. Kalau situasi normal lagi, mesin sudah normal lagi, maka seimbangkan lagi gaya hidupnya. Ini tidak mempromosikan pemborosan, ini adalah menolong UMKM yang hampir mati, mau tutup dan PHK," ujar Kang Emil.

"Agar tidak terjadi krisis ekonomi berkepanjangan, yang menengah atas silakan belanja," katanya.

Secara umum, ujar Kang Emil, penerima kredit di Jawa Barat berada di atas rata-rata nasional dari aspek penyerapannya. Sementara untuk warga yang gagal bayar (Non Performing Loan/NPL) berada di angka yang lebih sedikit dibandingkan nasional.

"Penerima kredit di atas rata-rata nasional penyerapan kreditnya 1,04 Jabar 1,55. NPL, kalau nasional 3,22 persen kita hanya 3,17 persen. secara umum ekonomi membaik, kredit yang disalurkan oleh perbankan banyak, yang gagal bayar sedikti. Secara umum prduksi dan SDM yang bekerja sudah 60 persen, setelah sempat drop di Caturwulan II.

Kalau sudah 100 persen, berarti ekonomi kita bergerak seperti sebelumnya. Oleh karena itu, saya imbau agar kelas menengah atas rajin belanja," katanya.

"Indeks tabungannya masih tinggi. Kenapa perdagangan menurun, kalangan menengah ke bawah tidak mampu beli, kita beri bansos. Yang atas masih terlalu banyak menyimpan uang. Itu memberatkan perbankan yang harus membayar bunga dan lain-lain dalam jangka panjang," katanya.



Simak Video "Truk Terguling Gegara Hindari Motor di Subang, Lalin Macet"
[Gambas:Video 20detik]
(yum/rgr)