Kamis, 26 Mar 2020 10:23 WIB

Imbas Corona, Tingkat Kemacetan Jakarta Turun Drastis

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Imbauan untuk kurangi aktivitas di luar rumah membuat lalin di Jakarta kini lengang. Imbauan itu turut berkontribusi pada perbaikan kualitas udara di ibu kota. Jalanan Jakarta lengang imbas virus corona. Foto: Antara Foto
Jakarta -

Aktivitas luar ruangan masyarakat di DKI Jakarta diminta untuk dikurangi untuk mencegah penyebaran virus corona (COVID-19). Banyak masyarakat yang melakukan kerja dari rumah atau work from home (WFH). Akibatnya, lalu lintas di Jakarta cenderung lengang.

Perusahaan spesialis teknologi lokasi, TomTom, menyajikan data Indeks Lalu Lintas TomTom (TomTom Traffic Index) secara real time. Selama 7 hari ke belakang ini, lalu lintas di Jakarta tampak sepi. Tingkat kemacetan lalu lintas dalam data TomTom pun menurun drastis.

Pagi ini saja per pukul 09.45 WIB, tingkat kemacetan di Jakarta turun 51% dari rata-rata tingkat kemacetan tahun lalu. Saat ini, tercatat tingkat kemacetan di Jakarta hanya 9%. Padahal, rata-rata tingkat kemacetan tahun 2019 di Jakarta pada hari dan jam yang sama mencapai 60%.

Suasana Kota Jakarta yang Lengang Imbas Corona. Suasana Kota Jakarta yang Lengang Imbas Corona. Foto: AP Photo

Selama 7 hari belakangan ini, tingkat kemacetan paling tinggi terjadi pada Jumat (20/3/2020) sore hari sekitar pukul 18.00 WIB. Saat itu, tingkat kemacetan di Jakarta mencapai 52%. Itu pun turun 46% dari rata-rata tingkat kemacetan Jakarta pada 2019 yang tercatat hingga 98% di jam dan hari yang sama.

Sementara itu, pada 2019 lalu Jakarta menduduki posisi 10 kota termacet di dunia dari total 416 kota di 57 negara di dunia yang disurvei TomTom.

Rata-rata tingkat kemacetan Jakarta pada 2019 menurut TomTom sebesar 53%. Tingkat kemacetan atau congestion level di sini maksudnya adalah perjalanan di Jakarta membutuhkan waktu 53% lebih lama dibanding kondisi tanpa kemacetan.

Untuk mendapatkan data tingkat kemacetan di suatu kota, TomTom memulai perhitungan dari waktu perjalanan dalam kondisi normal tanpa kemacetan di setiap segmen jalan di setiap kota di dunia. Itu dilakukan saat situasi jalan tidak terpengaruh oleh kemacetan. Biasanya terjadi pada malam hari, tapi juga bisa terjadi kapan saja.

Kemudian, TomTom menganalisis waktu perjalanan sepanjang tahun selama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu dan membandingkan informasi tersebut dengan lalu lintas normal tanpa kemacetan yang sudah dihitung sebelumnya. Dari situ, tercetuslah selisih waktu perjalanan tambahan di jam-jam tertentu.

"Data Indeks Lalu Lintas kami berasal dari komunitas kami yang berkembang dengan lebih dari 600 juta pengemudi yang menggunakan teknologi TomTom di perangkat navigasi, sistem di dalam mobil dan smartphone di seluruh dunia," klaim TomTom.

(rgr/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com