Jumat, 01 Feb 2019 13:49 WIB

Alasan Produsen Jas Hujan Was-was Soal Dolar

Ridwan Arifin - detikOto
Ilustrasi jas hujan Foto: ist Ilustrasi jas hujan Foto: ist
Jakarta -
Produsen jas hujan di Indonesia saat ini masih menggunakan bahan baku impor. Pengaruh nilai tukar rupiah terhadap dolar turut berimbas pada bisnis produsen hujan.

Seperti yang disampaikan Mohamad Said, produsen jas hujan merk Ascold asal Depok, Jawa Barat, yang kerap was-was saat dolar melambung tinggi.



"Yang penting kita bisa survive, sekarang juga bahan-bahan meningkat, apalagi dolar sempat naik waktu itu, tidak hanya kain, barang yang kita beli di toko seperti resleting, kancing dan segalam macam itu juga dari impor, jadi berpengaruh juga," ungkap Said.

Said mengatakan untuk bertahan di tengah naik turunnya dolar dengan tidak melulu menaikan harga kepada konsumen.



"Antisipasinya tidak selalu menaikan harga, kalaupun naik tidak signifikan, karena kita juga mengurangi margin keuntungan," kata Said.

"Tapi kalau kita perhatikan dolar itu naiknya tidak terus menerus, kadang naik dan turun, jadi kita nggak paksakan untuk naikan harga, jadi kita tetap menyesuaikan dan bertahan dengan harga, kecuali produksi tidak mencukupi baru benar harga jual kita naikan," ujarnya.

Selain itu, Said juga melakukan inovasi terhadap jenis desain jas hujannya. Hal ini dilakukan untuk menjaring konsumen baru, tanpa perlu menaikan harga jual dan menurunkan kualitas.

"Kita punya desain khusus wanita, mereka kan senangnya praktis, ada setel gamis, bawahan rok, dan juga baru-baru ini Ascold Gunung khusus untuk para pendaki," kata Said.
Harga jas hujan yang dijual produk Ascold mulai dari Rp 195.000 untuk bahan rubber (PVC), dan Rp 250.000 untuk berbahan taslan balon atau polyster coating PU.




Tonton juga video saat 'Gibran dan Kaesang Bisnis Jas Hujan':

[Gambas:Video 20detik]

(riar/lth)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed
Breaking News
×
Sidang Sengketa Pilpres 2019
Sidang Sengketa Pilpres 2019 Selengkapnya