Seperti yang disampaikan Ketua Umum Ikatan Ahli Teknik Otomotif (IATO) Indonesia, Ing Gunadi Sindhuwinata, makin ke sini teknologi makin canggih, meski nantinya kendaraan listrik akan menjadi tren baru di industri otomotif, dirasanya tidak secepat dan semudah itu mengakhiri keberadaan kendaraan konvensional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini pun, kata Gunadi, kendaraan dengan mesin konvensional bisa dijadikan kendaraan antipolusi dengan berbagai cara. Sehingga tidak merusak tatanan industri otomotif yang sedang berjalan sampai saat ini.
"Karena bisa saja diisi dengan air, jadi polusinya tidak ada. Mesinnya akan tetap sama, jadi nggak merusak industri yang sedang berjalan sekarang, mungkin bisa jadi alternatif," tuturnya.
Patokan dari pemerintah yang menyisakan waktu sekitar delapan tahun hingga 2025, lanjut Gunadi, masih cukup waktu untuk kendaraan bermesin konvensional beredar di pasar dan jalanan.
"Bisa jadi pada tahun 2000 sekian masalah fuel cell ini, kendaraan bermotor konvensional diisi dengan air sudah berkembang advanced," ucapnya.
Untuk selanjutnya semua itu kembali lagi kepada para pemain di industri otomotif. "Lebih jauh lagi ya bagaimana produsen mobil mengembangkan ke fuel cell untuk memanfaatkan air untuk bahan penggeraknya," pungkas Gunadi. (khi/rgr)












































Komentar Terbanyak
Jawaban Pindad soal Prabowo Minta Desain Mobil Khusus Presiden Sapa Rakyat
Wacana KDM Hapus Pajak Kendaraan-Diganti Jalan Berbayar: Biar Adil
Kapan Potongan Ojol 8% Mulai Berlaku?