Lubricant Product Development Pertamina, Mia Krishna mengatakan, untuk mendapatkan pelumas yang bisa merawat mesin dibutuhkan formulasi pencampuran base oil dan bahan aditif yang seimbang. Selain itu, dibutuhkan juga bahan baku yang berkualitas bagus. Karenanya, saat pengembangan pelumas baru, produsen pelumas perlu menguji beberapa kali hasil formulasinya sampai pelumas tersebut teruji performanya untuk merawat mesin.
"Kunci pertama adalah formulasi harus seimbang. Selain formulasi, bahan bakunya juga harus bagus. Itu tidak bisa diketahui kalau kita tidak punya lab riset. Pertamina punya lab riset sendiri di dalam negeri. Kami tahu kondisi di sini, kami tahu kondisi BBM di sini, jadi sangat merepresentasikan kondisi yang sebenarnya, termasuk bahan bakarnya," kata Mia kepada detikOto.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau (base oil) terlalu encer, sebenarnya bisa di-improve, dikasih pengental jadinya (kekentalan SAE) sama. Itu yang disebut kekentalannya sama, tapi bahan bakunya beda. Misalnya mau bikin keentalan 10, saya punya bahan baku encer yang 3, untuk capai 10 kan mesti dikentalin, kasih saja pengental akhirnya dapat kekentalan 10. Masukin deh ke mesin, misah semua kena panas. Yang kekentalan 3 menguap karena encer, alhasil olinya boros. Kalau terlalu kental, enggak tahan panas, enggak mengalir, tarikan berat, mesin kotor, aus di mana-mana. Bandingin sama base oil 10, dia tahan panas, olinya dengan mudah mengalir. Customer enggak tahu, tahunya kekentalannya sama 10W-30. Begitu dipakai terasa olinya boros," kata Mia.
Mia mengakui, konsumen akan sulit untuk memilih pelumas yang 'menyehatkan' mesin kendaraan jika hanya melihat dari sisi kemasannya. Sebab, tak banyak informasi yang bisa didapat dari kemasan pelumas.
"Kalau mau beli pelumas, dari kemasannya kita cuma bisa lihat SAE (tingkat kekentalan pelumas) dan API Service (tingkat unjuk kerja pelumas). Tapi dari bahan bakunya kita tidak bisa lihat. Kalau mau lihat performance-nya, dilihat secara fisik tidak bisa. Kelihatannya ketika dites. Performance yang terbaik itu dari bahan bakunya, formulasinya dan juga pengujiannya," kata Mia.
"Terus gimana cara lihat kualitasnya? Enggak bakal tahu. Yang bisa tahu, Anda percaya enggak sama produsennya? Kalau saya percaya sama produsennya, saya tahu dia punya lab, saya tahu dia punya kilang (bahan baku/base oil), sudah cukup," lanjut Mia. (rgr/ddn)












































Komentar Terbanyak
Resmi Turun, Ini Harga BBM Se-Indonesia Juli 2026
Insentif Kendaraan Listrik Molor lagi, Ini Alasan Menkeu Purbaya
Bahlil: Harga BBM Baru Naik 3 Minggu, Masa Udah Ditanya Kapan Turun