Kamis, 31 Jul 2014 10:09 WIB

Mulai Besok, SPBU Pertamina di Jakarta Pusat Tak Jual Solar Subsidi

- detikOto
Jakarta - Badan Pengatur Kegiatan Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) telah menginstruksikan kepada Badan Usaha Pelaksana Penyedia dan Pendistribusian Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi termasuk PT Pertamina untuk tidak mendistribusikan BBM jenis minyak solar bersubsidi khususnya di wilayah Jakarta Pusat. Langkah ini bagian dari upaya pemerintah mengendalikan konsumsi BBM subsidi termasuk jenis solar.

"Per 1 Agustus (2014) menghapus layanan minyak solar di wilayah Jakarta Pusat," kata Anggota BPH Migas Ibrahim Hasyim kepada detikFinance, Kamis (31/07/2014).

Menurut Ibrahim dipilihnya wilayah Jakarta Pusat karena daya konsumsi minyak solar cukup rendah. Hal ini didukung karena rendahnya mobilitas truk yang masuk ke wilayah Jakarta Pusat.

"Kenapa Jakarta Pusat? karena mobilitas truk di sana jarang atau sedikit sekali," imbuhnya.

Sementara itu untuk wilayah Jakarta lainnya, Ibrahim menegaskan SPBU Pertamina masih tetap akan menjual dan melayani pembelian minyak solar.

"Wilayah Jakarta lain masih banyak mobil yang memakai bahan bakar itu," katanya.

Ibrahim mengatakan surat edaran sebagai payung hukum kebijakan ini telah disampaikan kepada Badan Usaha dan Instansi terkait dan sudah melalui pembahasan intensif dengan Kementerian ESDM dan Kementerian Keuangan dan PT Pertamina.

3 Cara Pemerintah Kurangi Konsumsi BBM Subsidi

Mulai 1 Agustus 2014, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) akan mengeluarkan aturan, penjualan BBM subsidi jenis solar di SPBU hanya dilakukan pada pukul 08.00-18.00. Rencana ini hanya satu dari beberapa rencana pemerintah lainnya.

Hal ini disampaikan oleh Kepala BPH Migas Andy Noorsaman Someng, kepada detikFinance, dikutip Rabu (30/7/2014).

"Makanya BPH Migas keluarkan aturan (1) pembatasan jam operasional penjualan BBM subsidi di SPBU dari pukul 08.00-18.00 khusus untuk penjualan solar terutama daerah rawan penyalahgunaan solar subsidi, ada pula (2) peniadaan penjualan premium di jalan tol dan (3) peniadaan solar subsidi di SPBU di Jakarta Pusat. Ini demi terus menekan konsumsi BBM subsidi," kata Andy.

Seperti diketahui BBM subsidi tahun ini dipangkas dari 48 juta kilo liter (KL) menjadi hanya 46 juta KL, diperkirakan jatah tersebut tidak akan cukup sampai akhir tahun.

Andy yakin masyarakat Indonesia pada dasarnya sudah mampu membeli BBM non subsidi atau BBM dengan harga keekonomian.

"Masyarakat kita itu pada dasarnya sudah mampu beli BBM dengan harga keekonomian, artinya tanpa disubsidi pun tidak masalah, asal BBM itu tersedia, apalagi BBM non subsidi kualitasnya jauh lebih baik dari yang subsidi," katanya.

Seperti diketahui PT Pertamina (Persero) memperkirakan jatah BBM subsidi untuk solar habis 30 November 2014 dan premium habis 19 Desember 2014. Hal ini bakal terjadi jika tidak dilakukan berbagai upaya menekan konsumsi BBM subsidi.

"Sekarang ini kan yang banyak gunakan BBM subsidi yang pakai mobil, orang kaya, orang mampu, sementara orang miskin hanya sedikit sekali. Artinya kalau orang mampu harga keekonomian pun mereka sanggup beli," ujarnya.

"Jadi sebenarnya tidak ada masalah kalau akhir tahun BBM subsidi nanti habis, kan ada tersedia BBM non subsidi di tiap SPBU," tambahnya.

(rrd/syu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com