Yang berperan besar dalam investasi ini adalah BUMN Libya, Libyan Arab Foreign Investment Company (Lafico), yang dikontrol oleh Khadafi. Bloomberg bahkan dalam berbagai ulasannya menyebut Lafico adalah Khadafi juga pada ujungnya.
Allbusiness.com melansir, uang Libya masuk ke Fiat sejak 1976 lewat Lafico. Lafico membeli 10% saham Fiat senilai US$ 415 juta atau sekitar Rp 3,7 triliun. Namun rupanya Khadafi belum puas. Pada 1986, Lafico menambah kepemilikan saham menjadi 15%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Atas desakan AS, Fiat pun meminta Lafico melepas semua sahamnya. Namun bukan artinya Libya meredam ekspansi bisnisnya.
Ketika embargo ini dicabut pada 2002, Khadafi langsung pasang kuda-kuda untuk menebar investasi. Fiat tentu jadi sasaran utama.
Pada Februari 2002, Lafico langsung membeli 2% saham Fiat. Deal pembelian itu senilai US$ 112 juta atau sekitar Rp 1,008 triliun.
Uang Lafico di Fiat ini membuat Khadafi punya hubungan baik dengan keluarga konglomerat Italia, Agnelli. Agnelli adalah pemilik saham mayoritas di Fiat. Mereka berdua juga berbagi kepemilikan klub sepakbola Juventus di mana Agnelli menguasai 60% sahamnya.
(fay/ddn)












































Komentar Terbanyak
BBM Shell Kosong, Bahlil: Negara Nggak Cuma Ngurus 1 Kelompok!
Viral Istri Ketinggalan di Rest Area saat Mudik, Diantar Polisi Naik Moge
Sindir Mobil Gubernur Rp 8 M, Prabowo: Mobil Presiden Saja Rp 700 Juta