Tata Nano Hampir Kolaps

Tata Nano Hampir Kolaps

- detikOto
Minggu, 09 Jan 2011 11:56 WIB
Tata Nano Hampir Kolaps
New Delhi - Produsen mobil murah sejagat, Tata Nano, Tata Motors gagal mencapai target penjualan mobil di 2010. Kegagalan tersebut karena banyak masyarakat India yang membatalkan pembelian mobil Tata Nano.

Pembatalan datang dari konsumen Tata Nano yang memesan mobil lewat sistem online. Tata Motors tidak menjelaskan berapa banyak calon pembeli yang memutuskan untuk membatalkan pembelian. Informasi yang didapat karena konsumen terlalu lama menunggu inden.

"Mungkin dari mereka terlalu lama menunggu. Itu pilihan mereka. Tetapi kami telah menginformasikan jika mobil sudah siap untuk dikirim," kata juru bicara Tata Motors seperti dilansir Financial Express, Minggu (9/1/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejak pertengahan 2009 hingga akhir 2009, Tata Motors telah berhasil mengirim Tata Nano sebanyak 77 ribu unit. Dan untuk di 2010 Tata Motor rencananya mengirim sebanyak 155 ribu unit Tata Nano kepada pelanggan dalam tahap dua.

Isu beredar menyebutkan jika masyarakat India membatalkan pembelian karena tingkat keselamatan pada mobil tersebut sangat minim. Di 2010 saja, mobil murah se-India itu mengalami 6 kasus kebakaran. Beruntung belum ada korban jiwa satu
pun.

Terkait dengan itu, pihak Tata Motors sudah pernah menyarankan pengguna Tata Nano agar mendatangi ke diler Tata Nano dan memperbaiki letak kesalahan produksi dan menyebutnya bukan suatu kecelakaan besar dan tidak perlu recall.

Di bulan November 2010 lalu, penjualan Nano mencapai angka terendah yakni sekitar 509 unit saja.

Untuk kalangan menengah di India, memiliki mobil adalah sebuah status. Dan memiliki Nano berarti harus siap disebut sebagai mobilnya kaum miskin. Dan itu yang ditolak oleh kalangan menengah di India.

"Tata Nano terlihat sebagai mobil orang miskin. Orang tidak mau mendapatkan citra itu. Jika mereka mau mengganti perasaan itu penjualan mungkin akan kembali naik," ujar Ashish Masih, Asisten Editor What Car? Magazine India seperti dilansir Washington Post.

(ddn/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads