mengambil hak pejalan kaki maupun pengendara lain di jalan merupakan perilaku yang tidak aneh di Jakarta.
Nah, psikolog Tika Bisono mengatakan, perilaku mengemudi yang semrawut ini juga merupakan bagian dari kebiasaan yang diciptakan oleh kondisi jalan raya itu sendiri, sehingga ia pun yakin keadaan ini pun bisa diubah.
"Jalan raya kan penguasanya aparat (Polantas), mereka yang harus menjaga.
Permasalahannya, yang membuat stres di jalan raya kadang malah Polantas," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibatnya, lanjutnya, pelanggaran di jalan raya menjadi bisa ditolerir begitu
saja, dan tidak ada efek jera yang diberikan para petugas polisi di jalan raya
tersebut.
"Apalagi kalau sampai ada pungli, damai di tempat lah bahasanya, semakin kacau kondisi lalu lintas," papar Tika.
Pungli tersebut, sama sekali tidak memberikan pendidikan tertib berlalu lintas di jalan raya kepada masyarakat, karena selama mereka bisa membayar pungli, pelanggaran menjadi tidak masalah.
"Sekarang, kalau polisi menilang semua pelanggar tanpa pandang bulu, pasti akan tercipta efek jera, dan lalu lintas menjadi tertib," tutup Tika.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Boy Rafli Amar berkomentar soal hal ini. Menurutnya aparatnya sudah bekerja maksimal dan tidak tebang pilih dalam menilang.
"Masalah pungli tilang, kalau memang masih ada, laporkan saja, jangan mau dimintai pungli hanya untuk damai di tempat, tidak mendidik itu namanya," tegas Boy kepada detikOto, Kamis (26/8/2010).
Boy menambahkan, selama ruas jalan masih tetap kurang dibandingkan dengan populasi kendaraan yang beredar di jalan raya, maka menertibkan pengguna jalan masih akan sulit.
"Tapi kan semua orang tau, mengatur lalu lintas Jakarta itu tidak mudah,"
ujarnya.
(bgj/ddn)












































Komentar Terbanyak
Awas Kaget! Segini Pajak BYD Atto 1 Bila Tak Lagi Dapat Insentif
Naik Gila-gilaan! Intip Perbandingan Harga BBM RON 98 di RI Vs Negara ASEAN
Diduga Mirip Produk China Rp 8 Juta, Kok Bisa Motor MBG Tembus Rp 40 Juta?