Geliat Pedagang Onderdil di Jalan Banceuy

Geliat Pedagang Onderdil di Jalan Banceuy

- detikOto
Senin, 11 Jan 2010 09:34 WIB
Geliat Pedagang Onderdil di Jalan Banceuy
Bandung - Sepanjang sekitar 500 meter Jalan Banceuy yang berpotongan dengan Jalan ABC Bandung, pemandangan tak asing deretan pedagang onderdil terutama mobil akan ditemui. Setiap harinya tidak pernah sepi transaksi, jadi jangan heran pula jika begitu banyak mobil terparkir di pinggiran jalan ini.

Kawasan ini dikenal sebagai sentra onderdil mobil puluhan tahun lamanya. Menurut seorang pedagang onderdil, Eman Candra (64) kawasan ini sudah ada sejak tahun 1950-an. Eman sendiri baru berjualan pada tahun 1965. Bermula dari Pasar Banceuy yang juga dikenal dengan nama Santiong. Santiong adalah nama pemakaman warga Tionghoa.

Kemudian pemakaman ini diubah jadi Terminal Dago. Saat menjadi terminal, dimanfaatkan pedagang-pedagang kaki lima untuk menjual onderdil. Sampai akhirnya karena konsumen kian meluas, jumlah pedagang pun kian bertambah. Beberapa pedagang di Pasar Banceuy pun membuka toko yang lebih besar di pinggiran jalan. Seiring dengan itu, menjamur pula pedagang-pedagang kaki lima yang berjualan di jongko, roda ataupun mobil sekitar tahun 1980-an.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kawasan ini pun tambah ramai dengan munculnya toko-toko lampu hias dan pompa. Rata-rata para pedagang bukan asal dari Bandung. Menurut salah seorang pedagang Deni Jenet (42), para pedagang di Pasar Banceuy, selain keturunan warga Tionghoa, juga kebanyakan dari masyarakat Panjalu Ciamis.

"Kalau warga sekitar ikut-ikutan saja ketika tahu usaha ini ramai," ujarnya.

Menurutnya, kini jumlah pedagang kaki lima yang tergabung dalam Koperasi Pedagang Cabang Banceuy (Kopescab) sekitar 300-an, Ditambah lagi dengan montir-montir di setiap toko dan juga pedagang yang jumlahnya bisa mencapai seribu.

Sejak tahun lalu, khusus kawasan Pasar Banceuy akan diubah menjadi ruko pasar otomotif terbesar di Bandung. Sebanyak 156 pedagangnya kini dialihkan ke tempat penampungan pedagang sementara (TPPS) di penghujung jalan berbatasan dengan Jalan Kebon Jati. Rencananya, menurut Koordinator pedagang kaki lima Dadeng (37), para pedagang bisa menempati ruko tersebut bulan Maret 2010 mendatang. Namun dirinya ragu pembangunan itu akan segera rampung karena pembangunan baru mencapai 15 persen.

Selain itu, para pedagang kaki lima khawatir, jika ruko tersebut sudah jadi, mereka akan terusir dari kawasan tersebut. Sementara untuk membayar biaya sewa ruko, mereka tidak mampu.
(ema/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads