Gara-gara Banyak Pajak, Harga Porsche Panamera Belum Pasti

Gara-gara Banyak Pajak, Harga Porsche Panamera Belum Pasti

- detikOto
Jumat, 23 Okt 2009 14:50 WIB
Gara-gara Banyak Pajak, Harga Porsche Panamera Belum Pasti
Jakarta - Tingginya bea masuk barang mewah ke Indonesia membuat PT Eurokars Artha Utama selaku distributor mobil Sport Porsche Panamera kesulitan untuk menentukan harga produknya yang baru saja dirilis ke pasar otomotif nasional.

Belum lagi pajak progresif setiap wilayah dan tingginya nilai PPnBM serta Bea Balik Nama (BBN) semakin membuat PT Eurokars Artha Utama benar-benar arif untuk menentukan harga perunit New Porsche Panamera agar sesuai untuk iklim otomotif tanah air.

"Kita belum bisa memberitahu harga pastinya produk tersebut," kata CEO Eurokars Group of Companies, Herbert Kwee disela-sela peluncuran New Porsche Panamera di Pacific Place, Jakarta (23/9/2009).

Menurutnya PT Eurokars Artha Utama masih menghitung kebedaradaan New Porsche Panamera di Indonesia. "Saat ini kita sedang tahap prospek," ujarnya. "Termasuk bea masuk, pajak Progresif belum lagi PPnBM yang rencananya naik dan segala macam-macam masih kita hitung," ucap Herbert.

Di Eropa sendiri mobil sport eksotis tersebtu dilepas dengan harga sekitar 85 ribu Euro atau sekitar 1.2 miliar.

Dan untuk target penjualan, PT Eurokars Artha Utama selaku distributor mobil sport itu pun belum memiliki angka yang pasti kedepannya nanti.

Padahal Porsche Eropa menargetkan siklus produksi Panamera dapat terjual setidaknya sebanyak 20 ribu unit setiap tahunnya di dunia.

"Kita juga belum memiliki target di Indonesia, kita lihat nanti. Secepatnya akan kita umumkan," kata VP Sales Marketing, Yudy W. Widodo.

Sementara target penjualan Porsche versi sebelumnya nasional pada 2008 berkisar 50 hingga 60 unit (data dari PT Eurokars Artha Utama). Sedangkan angka perolehan dari PT Eurokars Artha Januari 2009 hingga September 2009 hanya berkisar 30 unit.

"Sampai saat ini kita hanya berhasil menjual sekita 30 unit saja," imbuh CEO Eurokars Group of Companies, Herbert Kwee. (ikh/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads