Sabtu, 30 Nov 2019 09:59 WIB

Jadi Wilayah Penghasil Minyak, Tapi Antrean SPBU Sampai Depan Rumah Warga

Luthfi Anshori - detikOto
Foto: Luthfi Anshori/detikOto Foto: Luthfi Anshori/detikOto
Balikpapan - Provinsi Kalimantan Timur dikenal sebagai salah satu penghasil minyak dan gas bumi (migas). Wilayah ini punya Blok East Kalimantan dan Blok Sanga Sanga di Kabupaten Kutai Kertanegara. Juga ditunjang dengan fasilitas kilang minyak di Samarinda dan Balikpapan.

Namun meski punya sumber daya alam melimpah dan fasilitas pengolahannya, ternyata kota-kota di Kalimantan Timur masih saja kekurangan bahan bakar. Utamanya jenis solar dan premium. Pantauan detikcom selama melakukan perjalanan Balikpapan - Samarinda, banyak antrean yang terjadi di SPBU Pertamina.



"Setiap pagi dan sore hari pasti ada antrean di SPBU. Kebanyakan yang antre truk-truk tronton. Bahan bakar yang langka solar sama premium, kalau yang lain aman," kata warga lokal Balikpapan, Zulkifli.

Antrean yang terjadi cukup panjang hingga ratusan meter. Truk-truk medium hingga besar berjajar di bahu jalan, bahkan ada yang sampai menutupi area depan rumah warga.

Antrean Turk saat ingin isi BBMAntrean Turk saat ingin isi BBM Foto: Luthfi Anshori/detikOto


Menurut Zulkifli, kelangkaan solar dan premium di Balikpapan dan Samarinda akibat dari pembatasan. "Karena di sini solar dibatasi. Selain itu banyak wilayah tambang, jadi kebanyakan solar larinya ke sana," lanjut Zulkifli.

Hal ini tentunya sangat ironis, sebab para driver truk akhirnya harus mengantre pengisian bahan bakar di wilayah yang statusnya justru sebagai salah satu lumbung minyak di Indonesia. Salah satu pemandangan yang cukup menarik ada di SPBU Pertamina Teluk Lerong Samarinda, di mana juga ada antrean solar yang cukup panjang, padahal di belakang SPBU tersebut ada fasilitas terminal BBM milik Pertamina.



Selain SPBU Pertamina, pantauan detikcom tidak ada lagi SPBU lain yang beroperasi di Balikpapan dan Samarinda. Tapi sebenarnya masih ada pilihan lain bagi pengemudi truk yang ingin mengisi solar tanpa harus antre. Yakni melalui pedagang eceran.

"Tapi itu harganya sangat mahal. Kalau di SPBU harga solar Rp 5.150, di pedagang eceran harganya sampai Rp 8.000. Tapi kalau keadaan terpaksa, biasanya ada saja sopir truk yang ngisi di eceran," terang Zulkifli.

Simak Video "BBM Solar Langka di Parepare, Sopir Mangkal di SPBU"
[Gambas:Video 20detik]
(lua/lth)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com