Motor Keluar Gang Tak Bisa Asal Nyelonong, Ini Aturan Mainnya

Tim detikcom - detikOto
Kamis, 29 Jul 2021 08:32 WIB
Spanduk terkait wabah COVID-19 terpasang di sejumlah gang di Kota Bandung, Jawa Barat. Spanduk itu, mengajak warga untuk memerangi COVID-19.
Motor keluar dari gang. Saat keluar dari gang, pengendara tak bisa asal nyelonong. Ada undang-undang yang mengatur. Foto: Wisma Putra
Jakarta -

Berkendara di jalan raya ada aturan dan etikanya. Agar tak terjadi kecelakaan, pengendara harus menerapkan etika dan mematuhi aturan yang berlaku. Salah satunya yaitu etika berkendara keluar dari gang.

Soal kendaraan yang keluar dari gang, banyak pengendara khususnya sepeda motor yang asal nyelonong saja. Padahal, ada undang-undang yang mengatur etika berkendara keluar di persimpangan, salah satunya keluar dari gang.

Menurut UU No. 22 Tahun 2009 Pasal 113, pada persimpangan sebidang yang tidak dikendalikan dengan Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL) atau lampu merah, pengemudi wajib memberikan hak utama kepada beberapa kendaraan lain. Soal etika keluar dari gang atau jalan yang lebih kecil, Pasal 113 poin b menyebut, pengemudi harus memberikan hak utama kepada kendaraan dari jalan utama jika pengemudi tersebut datang dari cabang persimpangan yang lebih kecil atau dari pekarangan yang berbatasan dengan jalan.

Praktisi keselamatan berkendara yang juga Senior Instructor Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, mengatakan pengendara yang keluar dari gang wajib memperlambat kendaraannya dan berhenti untuk mengecek situasi jalan utama. Jadi, pengendara tak boleh asal nyelonong saat keluar dari gang. Banyak kasus pengendara nyelonong keluar dari gang berujung tabrakan dengan kendaraan lain yang berada di jalur utama.

"Biasakan kendaraan berhenti di mulut jalan kecil ketika menuju jalan utama. Lihat kanan-kiri-kanan, setelah kondisi clear baru melintas," kata Sony.

Selain etika keluar dari gang, pada persimpangan yang tidak ada lampu merah pengemudi wajib memberikan hak utama kepada kendaraan yang datang dari arah depan dan/atau dari arah cabang persimpangan yang lain jika hal itu dinyatakan dengan Rambu Lalu Lintas atau Marka Jalan.

Di persimpangan sebidang, pengendara juga harus memberikan hak utama kepada kendaraan yang datang dari arah cabang persimpangan sebelah kiri jika cabang persimpangan empat atau lebih dan sama besar. Kendaraan yang datang dari arah cabang sebelah kiri di persimpangan tiga yang tidak tegak lurus; atau kendaraan yang datang dari arah cabang persimpangan yang lurus pada persimpangan tiga tegak lurus juga wajib diberikan hak utama.

Selanjutnya, jika persimpangan dilengkapi alat pengendali lalu lintas yang berbentuk bundaran, pengemudi harus memberikan hak utama kepada kendaraan lain yang datang dari arah kanan.



Simak Video "Jangan Salah Kaprah! Jalan Tol Bukan untuk Geber Mobil Sebebasnya"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)