"Kami hanya mengincar mobil berpenumpang tunggal. Tak peduli laki-laki atau perempuan," kata Susanto usai dibekuk polisi di Mapolsek Setiabudi, Jl Setiabudi Barat, Jakarta Selatan, Senin, (15/6/2009).
Jika syarat tersebut telah dipenuhi, maka terjadilah komunikasi di antara kawanan tersebut dengan pesan berantai via sms. Guna menghindari target operasi mereka, Susanto memberikan tips.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi Susanto, di keroyok massa merupakan resiko, meski belum pernah. Dalam beberapa kali aksinya, dia sudah terbiasa diteriaki maling, meski tidak terkejar akibat gesitnya mengendarai sepeda motor.
"Kalau kagak mau kejebak, ya, jangan berhenti," pungkasnya.
Komplotan perampok yang membohongi pengendara mobil ini dibekuk polisi usai 25 kali beraksi dalam setahun terakhir. Mereka mengecoh korban dengan memberitahu mobil korban gembos.
"Sudah 25 kali beraksi. Ini baru ketangkap," kata Susanto.
Dalam aksinya, mereka bekerja sepanjang Jalan Rasuna Said. Masing-masing mengecoh calon korban dengan memberitahu ban kendaraan gembos. Satu kali diingatkan korban masih belum percaya.
Dilanjutkan dengan pelaku kedua, ketiga dan keempat. Pada pelaku keempat inilah korban terkecoh dan merasa ban belakangnya benar-benar bocor. Saat pemilik kendaraan mengecek ban depan, pelaku pun beraksi.
"Cukup 30 detik buat menggasak tas di kursi belakang," tambahnya.
Usai berhasil membawa kabur tas, pelaku langsung tancap gas menggunakan sepeda motor yang telah disiapkan. Sayang, ibarat sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya terperosok ke lobang jua. Begitupun dengan komplotan Susanto.
(asp/ddn)












































Komentar Terbanyak
Sekarang Dijual Rp 16.250/Liter, Ternyata Harga Asli Pertamax Segini
Penjelasan Pertamina soal Harga Pertamax Tiba-tiba Naik 10 Juni
Bikin SIM Digital Nggak sampai 5 Menit, Tanpa Biaya