Jumat, 24 Jul 2020 11:46 WIB

Takut Diamuk Massa saat Kecelakaan, Jangan Jadi Pelaku Tabrak Lari

Tim detikcom - detikOto
Poster Ilustrasi kecelakaan. Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Peristiwa tabrak lari kembali terjadi. Kemarin, Kamis (23/7/2020), seorang petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) DKI Jakarta, meninggal dunia setelah ditabrak motor. Pengendara motor kabur tak bertanggung jawab.

Bahkan, pelaku tabrak lari itu membuat geram Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Di akun media sosialnya, Anies menyebut pelaku tabrak lari itu sebagai pengecut.

Saat terlibat kecelakaan lalu lintas apalagi menjadi penyebab timbulnya korban, pengendara dilarang untuk kabur. Menurut Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 Pasal 231 Ayat 1, pengemudi kendaraan bermotor yang terlibat kecelakaan lalu lintas wajib: menghentikan kendaraan yang dikemudikannya; memberikan pertolongan kepada korban; melaporkan kecelakaan kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia terdekat; dan memberikan keterangan yang terkait dengan kejadian kecelakaan.

Namun, beberapa kali pengendara kabur setelah terlibat kecelakaan karena takut diamuk massa. Meski begitu, takut diamuk massa bukan menjadi alasan untuk kabur dari tanggung jawab.

Beberapa waktu lalu, praktisi keselamatan berkendara dan Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengatakan, jika pengendara terlibat kecelakaan dan kabur untuk menghindari amukan massa, segera berhenti di tempat yang aman jika situasinya tidak memungkinkan untuk berhenti di tempat kejadian. Pengendara yang terlibat kecelakaan bisa berhenti di pos polisi terdekat dan melaporkan kejadian.

"Karena namanya tabrak lari sanksi hukumnya beda dengan menyerahkan diri. Kalau dia melaporkan itu kan menyerahkan diri," kata Jusri beberapa waktu lalu.

Diatur dalam Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 Pasal 312, pengendara yang terlibat kecelakaan lalu lintas dan dengan sengaja tidak menghentikan kendaraannya, tidak memberikan pertolongan, atau tidak melaporkan kepada kepolisian tanpa alasan yang patut, bakal dikenakan sanksi yang cukup berat. Sanksinya yaitu pidana penjara paling lama tiga tahun atau denda paling banyak Rp 75 juta.



Simak Video "Mobil Tabrak Lari di Matraman, 2 Motor Ringsek"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com