Mobil Jarang Dipakai, Oli Mesin Wajib Diganti?

Luthfi Anshori - detikOto
Sabtu, 04 Sep 2021 09:45 WIB
Servis medium mobil kena banjir di Auto2000 Cilandak, Jakarta, Jumat (3/1/2020).
Mobil jarang dipakai, oli mesin perlu diganti? Foto: Luthfi Anshori
Jakarta -

Di masa pandemi kegiatan masyarakat makin terbatas, mobil pun jarang dipakai oleh pemiliknya. Kalau sudah begitu, apakah oli mesin wajib diganti jika interval pemakaian berdasarkan waktu sudah tercapai? Ini penjelasannya.

Aturan pembatasan kegiatan masyarakat membuat mobil jarang digunakan, bahkan parkir lama di garasi rumah ketika sang pemilik tak pernah bepergian disebabkan memilih untuk work from home (WFH).

Situasi ini tentunya membawa dampak negatif pada pemilik mobil, yakni segan atau lupa merawat kendaraannya, terutama mengenai oli mesin yang punya peran sangat penting, meskipun kendaraan bermotor tidak dipakai dalam jangka waktu lama.

Pertanyaannya, apakah oli mesin masih perlu diganti ketika mobil lama terparkir di garasi? Berikut penjelasan dari Auto2000:

Fungsi Oli Mesin

Mengapa oli mesin memegang peran sangat penting pada sebuah kendaraan? Hal utama yang wajib diketahui kamu adalah mengenai fungsi dari oli mesin itu sendiri. Sebagian dari pemilik mobil hanya tahu fungsi dari oli mesin adalah sebagai pelumas antar komponen mesin, yang saling bergesekan untuk mengurangi risiko aus sehingga dapat bergerak secara optimal sepanjang waktu.

Dalam prosesnya, oli melarutkan kotoran yang ada di dalam mesin dan membawanya ke filter oli untuk disaring. Kotoran ini timbul dari debu yang masuk melalui celah seal, bisa karena bocor atau sudah kemakan usia, dan akibat gesekan antar komponen dalam mesin berupa serpihan logam halus. Itulah mengapa filter oli mesin wajib diganti sesuai rekomendasi bengkel untuk menjaga kinerjanya supaya tetap optimal.

Fungsi lain dari pelumas adalah membantu mendinginkan mesin di mana panas yang timbul dari gesekan antar komponen di dalam mesin akan diteruskan oleh oli mesin ke dinding blok mesin dan selanjutnya dilepaskan keluar. Yang tidak kalah penting, senyawa kimia yang terdapat di dalam oli mesin akan mencegah terjadinya karat pada komponen di dalam mesin untuk menjaga usia pakainya.

Dampak Buruk Tidak Mengganti Oli Mesin

Struktur senyawa kimia oli mesin pasti akan berubah dan kemampuannya dalam melakukan tugas ikut menurun seiring beroperasinya mesin mobil, apalagi jika sering menghadapi kondisi berat seperti macet parah. Karena tidak bisa bekerja secara optimal dalam melindungi komponen mesin, gesekan akan meningkat dan meninggalkan banyak residu.

Jika dibiarkan, kotoran akan menghambat kinerja mesin selain membuat komponen di dalamnya rusak lantaran fungsi utama oli mesin sudah berkurang. Residu berlebihan turut mempengaruhi kinerja pompa dan filter oli mesin di mana jika sudah parah dapat mengakibatkan keduanya mampat. Kondisi ini juga akan menyebabkan fungsi oli lainnya, seperti membantu melepaskan panas mesin ikut berkurang dan membuat kerja radiator semakin berat. Hanya masalah waktu sebelum akhirnya mesin bermasalah dan rusak parah.

Meskipun demikian, membiarkan oli mesin tak diganti dengan alasan mobil tak pernah dipakai saat PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) juga tidak tepat. Seiring waktu, senyawa kimia oli mesin akan mengalami perubahan terkait proses oksidasi yang secara alami terjadi. Masalahnya, kandungan air sebagai akibat dari oksidasi pada oli mesin akan meningkat hingga mencapai level yang berbahaya jika didiamkan.

Begitu mesin dinyalakan dan oli bekerja, kontaminasi air akan merusak senyawa oli dan menurunkan kemampuannya. Tinggal masalah waktu sebelum akhirnya mesin mobil bermasalah akibat pelumas gagal melindungi komponen mesin. Ruang mesin juga punya potensi timbul karat karena proses oksidasi. Jika dibiarkan, karat akan merambat ke berbagai komponen di dalam mesin dan mengakibatkan kerusakan parah.

Melihat pentingnya tugas oli mesin, cairan pelumas ini harus selalu dalam radar pengawasan, minimal disarankan untuk menggantinya waktu servis berkala setiap 6 bulan.

(lua/lth)