Pakai Tambahan Zat Aditif BBM, Aman Nggak Sih?

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Minggu, 28 Mar 2021 11:10 WIB
Warga membeli bbm subsidi jenis premium di SPBU Pertamina, Otista, Jakarta Timur, Jumat (15/11/2019). Pertamina berharap penyaluran BBM Bersubsidi tepat sasaran. Sebab yang terjadi di lapangan hingga kini BBM Bersubsidi masih banyak dikonsumsi oleh masyarakat yang secara ekonomi tergolong mampu.
Banyak ditawarkan produk aftermarket berupa zat aditif campuran BBM. Aman nggak sih? Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Saat ini banyak yang menawarkan produk aftermarket yang mengklaim bisa mendongkrak performa kendaraan. Salah satunya adalah zat aditif yang dicampur ke bahan bakar minyak (BBM).

Beragam jenis zat aditif itu ditawarkan kepada pemilik kendaraan. Pada umumnya zat aditif ini ditawarkan dengan tujuan meningkatkan performa. Klaimnya, zat aditif akan menambah nilai oktan untuk meningkatkan performa mesin dan mengurangi knocking. Tapi, aman nggak sih?

Dalam siaran pers dari Daihatsu yang diterima detikcom, pemilik kendaraan disarankan menghindari penggunaan zat aditif pada bahan bakar tersebut. Soalnya, zat aditif itu bisa merusak mobil.

"Zat aditif ini dapat mengandung bahan kimia yang tidak sesuai dengan kondisi mobil. Dalam jangka waktu tertentu dapat menyebabkan kerusakan pada tangki bensin, fuel pump dan mesin," tulis Daihatsu dalam siaran persnya.

Selain itu, menurut Daihatsu, penggunaan tambahan zat aditif pada BBM juga dapat mengacaukan sistem kontrol emisi. Sehingga, emisi gas buang yang dihasilkan mobil tidak memenuhi regulasi standar.

Bukan menggunakan zat aditif tambahan untuk BBM, Daihatsu memberikan tips membuat kendaraan hemat BBM, lebih ramah lingkungan, dan lebih efisien. Yang pertama, pemilik mobil disarankan menggunakan BBM berkualitas.

"Yaitu bahan bakar tanpa timbal dengan pemilihan RON yang telah direkomendasikan," katanya.

Daihatsu menyarankan, mobil-mobil saat ini yang telah memenuhi standar emisi Euro 4 disarankan menggunakan BBM standar Euro 4. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan performa yang terbaik, selain itu juga menggunakan bahan bakar dengan RON yang tepat dapat menjaga kebersihan ruang bakar mesin dan dan turut menjaga kebersihan lingkungan dari polusi.

Selain itu, pengendara juga bisa menerapkan teknik mengemudi Eco-driving. Sebelum berkendara tidak memerlukan pemanasan mesin yang lama, hanya tunggu beberapa saat sampai semua lampu indikator di meter kombinasi padam, RPM stabil baru hidupkan AC; jangan lupa atur suhu AC ideal di ruang kabin; hindari akselerasi dan pengereman mendadak; berkendara sehalus mungkin; jaga perpindahan gigi sesuai dengan torsi diperlukan, dengan range RPM di putaran 2.000-3.000 (beberapa tipe kendaraan sudah dilengkapi lampu Eco-Indikator untuk membantu pengemudi supaya lebih efisien); jaga jarak dengan kendaraan lain; gunakan engine brake untuk deselerasi di jalan menurun atau sebelum tikungan; gunakan momentum akselerasi saat di di jalan menanjak; matikan mesin dan buka jendela secukupnya untuk sirkulasi udara ketika sedang menunggu dalam jangka waktu lama di dalam mobil.

"Kami berharap, melalui sharing tips ini, mobil Sahabat dapat terus dalam kondisi yang optimal, sehingga dapat tetap beraktivitas dengan lebih aman, nyaman, dan menyenangkan. Sahabat juga dapat memastikan kendaraannya agar selalu dalam kondisi prima dengan melakukan service rutin di bengkel resmi Daihatsu terdekat," ujar Bambang Supriyadi, Executive Coordinator Technical Service Division PT Astra Daihatsu Motor (ADM).



Simak Video "Di Jepang, Kakek-Nenek Dilatih Agar Aman Berkendara"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/lua)