Lalu lintas menuju Bandara Soekarno-Hatta macet. Kemacetan diduga karena melonjaknya massa yang menyambut kedatangan Habib Rizieq Syihab. Pengendara diwanti-wanti untuk tetap menerapkan defensive driving.
Praktisi keselamatan berkendara yang juga Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, mengatakan, sebenarnya setiap pengendara yang menuju Bandara Soekarno-Hatta untuk melanjutkan perjalanan dengan pesawat terbang sudah mempersiapkan langkah antisipasinya. Apalagi, saat ini perjalanan menuju bandara harus on time 4 jam sebelum keberangkatan karena harus mengecek dokumen kesehatan.
"Menerapkan gaya mengemudi reaktif berpotensi konflik dan kecelakaan. Nggak ada alternatif, pengemudi tetap harus defensive dalam berkendara, karena mungkin akan banyak kerumunan massa, bagaimanapun keselamatan mereka juga penting dan jangan lupa serta ikuti arus dan arahan yang sudah dibuat oleh petugas," kata Sony kepada detikcom, Selasa (10/11/2020).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemacetan terjadi di tol Cengkareng selepas keluar menuju bandara Soekarno Hatta. Para penumpang pesawat yang hendak menuju bandara pun ikut terjebak macet. Foto: Rifkianto Nugroho |
Menurut Sony, setidaknya ada lima hal yang harus dilakukan pengendara yang terjebak macet menuju bandara. Yang pertama, mempunyai rencana dan rute alternatif menuju tujuan.
"Pengemudi tidak boleh mengandalkan kebiasaan, biasanya nggak macet, biasanya lancar, biasanya dan lain-lain," sebut Sony.
Kedua, tetap patuhi rambu-rambu lalu lintas. Utamanya tidak melanggar kecepatan kendaraan.
"Bermanuver tidak kasar, pergerakan kendaraan yang kasar membahayakan orang lain, karena berpotensi selip," jela Sony.
Selanjutnya, ikuti arus dengan relaks. Pengendara sebaiknya kurangi suara klakson saat macet untuk menghindari konflik.
"Lebih baik ambil langkah reschedule keberangkatan (pesawat) daripada stres. Mungkin hari yang sama tapi lebih ke sore," saran Sony.
(rgr/din)













































Komentar Terbanyak
Pajak Avanza di Indonesia Rp 5 Juta, Malaysia Rp 600 Ribu, Thailand Rp 150 Ribu
Mobil Listrik China Murah-murah, Kok Suzuki Pede Jual e Vitara Rp 755 Juta?
Penjualan Mobil di Indonesia Nyaris Disalip Malaysia, Menperin: Ini Alarm!