Senin, 04 Mei 2020 07:11 WIB

Supercar itu Buas, Salah Sedikit Bisa Liar

Ridwan Arifin - detikOto
Penampakan Mclaren yang ringsek usai mengalami kecelakaan tunggal di Tol Jagorawi Penampakan McLaren yang ringsek Foto: Polresta Bogor Kota
Jakarta -

Kecelakaan supercar kembali terjadi di tengah situasi pandemi virus Corona. Kali ini sebuah McLaren MP4-12C keluar jalur dan menabrak pohon palem, mobil pun ringsek di Km 43 Tol Jagorawi.

Beruntung tidak ada korban jiwa, kedua penumpang disebut hanya mengalami luka ringan. Body mobil pun ringsek.

Instruktur Keselamatan Berkendara Jakarta Defensive Driving Consultant (JDDC) Jusri Pulubuhu mengatakan godaan memacu supercar memang tinggi dan biasa terjadi.

"Karakter supercar itu berbeda dengan kendaraan lain, dan nuansa membawa supercar itu berbeda dari melihat, mendengar itu degup jantung luar biasa." kata Jusri saat dihubungi detikcom, Minggu (5/3/2020).

"Ada faktor psikis, baunya, dentuman suara knalpot ini akan memunculkan hormon endorfin, begitu kita di dalam sensasi yang namanya adrenalin naik. Ketika endorfin dibarengi adrenalin, maka logika sudah tidak main." jelasnya.

Senada dengan hal tersebut Instruktur Rifat Drive Labs, Erreza Hardian mengatakan dalam situasi PSBB membuat jalan lengang, memacu pengemudi injak gas lebih dalam.

"Gap antara kendaraan sangat kecil. Ketika membawa kendaraan dengan spek yang tinggi maka ada sebuah keinginan untuk menggunakan tenaga yang ada," kata Reza saat dihubungi detikcom, Minggu (4/5/2020).

Ada beberapa aspek yang dibagi supaya mengemudi supercar tetap aman di jalan.

Pertama, pahami karakter mobil.

Jusri mengatakan bekal dasar yang harus dimiliki pengemudi supercar ada tiga hal yakni mengetahui semburan tenaga, pengereman, dan performa handling.

"Dari nama saja supercar kita sudah mengidentikan dengan power yang buas. Kalau power buas ini akan agresif dan sensitif lalai dalam pengoperasiannya."

"Mobil-mobil ini handling-nya beda dengan mobil biasa, input kita sedikit, outputnya besar. Tapi konyol, mobil-mobil ini tidak selincah mobil-mobil biasa saat kita u-turn, steering input sedikit saja butuh beberapa kali putaran. Artinya kita tidak bisa fleksibel."

"Karakter ini betul-betul dipahami, karena salah memberikan input dia akan out, keluar jalur menghajar pohon palem." jelas Jusri.

Kedua, utamakan attitude di jalan

Tak dipungkiri, raungan mesin dibalut suara knalpot yang menggelegar jadi kombinasi prestige saat mengendarai supercar. Tapi selain pengetahuan dan keterampilan (hardskill), hal yang tak kalah penting ialah soft skill.

Jusri menjelaskan lemahnya softskill jadi masalah utama kecelakaan di lalu lintas, tak terkecuali bagi pengguna supercar.

"Nuansa membawa supercar itu berbeda. Dari melihat dan mendengar saja kita akan membawa mobil itu degub jantung luar biasa," tuturnya.

Jusri bahkan mengatakan tren kecelakaan supercar tengah terjadi saat PSBB. Mulai dari Nissan GT-R hingga yang terakhir McLaren, pun di Tol Jagorawi.

"Harusnya kita sudah bisa menyimpulkan, kecelakaan di supercar bukan soal di masalah technical, bukan kendaraan yang super,"

"Lebih banyak terkait softskill, melahirkan pola pikir kehati-hatian. Perilaku waspada, tertib, empati. Jadi kecelakaan di sini karena kelemahan pada aspek softskill." tukasnya.



Simak Video "Kesal Diminta Putar Arah, Mobil Ferrari 'Geber' Petugas di Pos Penyekatan"
[Gambas:Video 20detik]
(riar/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com