Selasa, 03 Apr 2018 08:55 WIB

Mitos Seputar Oli

Gonta-ganti Oli Mesin, Amankah Bagi Kendaraan?

Ruly Kurniawan - detikOto
Mekanik mengganti oli mobil (Foto: Pertamina Lubricants) Mekanik mengganti oli mobil (Foto: Pertamina Lubricants)
Bogor - Mungkin karena lagi ada diskon harga, pengendara suka gonta-ganti merek oli mesin. Ada yang mengatakan bahwa hal tersebut bukanlah masalah, namun tidak sedikit pula yang beranggapan bahwa mesin kendaraan akan mengalami kendala. Lantas, mana ya yang benar?

Technical Specialist PT Pertamina Lubricants Agung Prabowo menjelaskan bahwa gonta-ganti pelumas mesin kendaraan boleh-boleh saja. Asalkan, tingkat viskositas atau kekentalan (SAE) dan jenis oli yang digunakan sama. Dalam artian, sesuai dengan spesifikasi kendaraan.

"Ini nih yang sempat didebatkan kemarin-kemarin. Begini, kalau misalkan tipe olinya asama, SAE-nya sama, bisa saja kok," ujar Agung di Bogor, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.



"Tapi bukan berarti bisa ganti-ganti merek oli tiap saat. Karena tetap saja potensi kerusakan masih ada," tambahnya.

Soalnya, Agung melanjutkan, setiap merek pelumas memiliki karakteristik, formula, dan senyawa yang berbeda. Ada zat yang diunggulkan, ada pula yang kadarnya tidak diperbanyak.

Nah, untuk Otolovers yang sering melakukan hal tersebut Agung mengharuskan untuk melakukan flushing atau mengurang mesin dari endapan pelumas yang tersisa sebelum menganti dengan oli baru. Gunanya untuk menghindari adanya endapan pada mesin.

"Kalau mau seperti itu lebih baik ke bengkel langganan saja supaya aman," ujar Agung.

Agung sebelumnya juga mengimbau para pengendara untuk membeli oli sintetis yang tidak lebih dari 6 bulan dari masa pembuatannya. Saat pemakaiannya juga jangan sampai kendaraan 'nganggur' terlalu lama (ketika oli masih di dalam tubuh mobil atau motor).



"Oli sintetis itu sangat bagus jika digunakan sesuai dan terus-menerus, jadi sayang jika kendaraan sering standby. Karena, bila seperti itu ada potensi masalah dalam sifat homogenisasi mereka dengan additive si oli sendiri. Ikatan karbon sintetis oli sangat kuat di masing-masing ikatanya sehingga saat pengolahan saja susah bercampur dan proses lebih lama. Itupun tidak 100%," ujarnya.

"Sehingga kalau didiamkan baik saat sudah masuk mesin atau dalam botol dalam waktu lama, ada potensi berpisah kembali. Jadi sayangkan lebih baik pakai oli mineral biasa atau oli sintetis yang dari group 3 (lebih rendah-Red) saja," tambah Agung.

Jadi, lanjut Agung, sangat penting untuk melihat tanggal pembuatan di botol oli sintetis sebelum membelinya. Jangan pula membiarkan oli masih berada di dalam mesin kendaraan apabila mobil atau motor tidak digunakan dalam jangka waktu yang lama.



"Secara standar baku sampai saat ini tidak ada spesifikasi waktu oli sintetis tidak baik digunakan lagi. Tapi para praktisi biasanya kalau beli oli sintetis ya cari yang pembuatannya terbaru ya mungkin 3-6bulan. Kalau sudah masuk mesin tergantung temperatur lingkunganya," ucap Agung.

"Tetapi jika oli sintetis dipakai terus, maka oli sintetis akan berumur lebih panjang dibanding mineral oil, lebih tahan panas, lebih tahan dingin, dan bahkan ada yg tahan dengan air," sambungnya.

Patut diketahui, oli kendaraan dari berbagai merek apapun pada umumnya terbagi atas dua jenis, yakni mineral dan sintetik. Oli mineral berasal dari bahan baku minyak bumi. Sementara sintetik dari minyak bumi yang sudah diolah kembali, sehingga sifat-sifat yang tidak diinginkan sudah dihilangkan. Maka, beberapa kelebihan pun ia miliki bila dibanding oli mineral.

Selain keduanya, terkadang ada pula oli semi sintetik. Bahan baku oli semi sintetik berasal dari bahan-bahan campuran, yakni sintetik yang dikombinasikan dengan mineral minyak bumi.


(ruk/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed