Moorissa Tjokro, Wanita Indonesia di Balik Fitur Autopilot Tesla

Tim detikcom - detikOto
Selasa, 22 Des 2020 19:03 WIB
CORTE MADERA, CA - AUGUST 02:  The Tesla logo appears on a brand new Tesla Model S on August 2, 2017 in Corte Madera, California. Tesla will report second-quarter earnings today after the closing bell.  (Photo by Justin Sullivan/Getty Images)
Di balik canggihnya teknologi Autopilot pada mobil Tesla terdapat seorang wanita asal Indonesia. Foto: Justin Sullivan/Getty Images
San Francisco -

Siapa sangka, di balik canggihnya fitur Autopilot mobil listrik Tesla yang bisa membawa mobil melaju sendiri tanpa kendali manusia, ada sentuhan insinyur wanita asal Indonesia. Ialah Moorissa Tjokro yang menjadi salah satu Autopilot Software Engineer di Tesla.

Dikutip dari VOA Indonesia, Moorissa dipercaya untuk ikut menggarap fitur full self driving untuk mobil Tesla. Moorissa berperan sebagai insinyur perangkat lunak autopilot Tesla di San Francisco, California, Amerika Serikat.

"Sebagai Autopilot Software Engineer, bagian-bagian yang kita lakukan, mencakup computer vision, seperti gimana sih mobil itu (melihat) dan mendeteksi lingkungan di sekitar kita. Apa ada mobil di depan kita? Tempat sampah di kanan kita? Dan juga, gimana kita bisa bergerak atau yang namanya control and behavior planning, untuk ke kanan, ke kiri, maneuver in a certain way," ujar Moorissa Tjokro dalam wawancara dengan VOA.

Moorissa telah bekerja untuk Tesla sejak Desember 2018. Sebelum menjadi Autopilot Software Engineer, Moorissa dipercaya Tesla menjadi Data Scientist yang menangani perangkat lunak mobil.

"Sekitar dua tahun yang lalu, temanku sebenarnya intern (magang) di Tesla. Dan waktu itu dia sempat ngirimin resume-ku ke timnya. Dari situ, aku tuh sebenarnya enggak pernah apply, jadi langsung di kontak sama Tesla-nya sendiri. Dan dari situlah kita mulai proses interview," ujarnya.

Moorissa Tjokro, Wanita Indonesia di Balik Fitur Autopilot TeslaMoorissa Tjokro, Wanita Indonesia di Balik Fitur Autopilot Tesla Foto: Dok. Moorissa via VOA

Kini, Moorissa lebih banyak bertugas untuk mengevaluasi perangkat lunak autopilot serta melakukan pengujian terhadap kinerja mobil, juga mencari cara untuk meningkatkan kinerjanya.

"Kita pengin banget, gimana caranya bisa membuat sistem itu seaman mungkin. Jadi sebelum diluncurkan autopilot software-nya, kita selalu ada very rigorous testing (pengujian yang sangat ketat), yang giat dan menghitung semua risiko-risiko agar komputernya bisa benar-benar aman untuk semuanya," ujarnya.

Moorissa yang merupakan lulusan SMA Pelita Harapan di Indonesia ini menetap di Amerika sejak 2011. Saat baru berusia 16 tahun, Moorissa mendapat beasiswa Wilson and Shannon Technology untuk kuliah di Seattle Central College.

Pada 2012, Moorrisa yang meraih gelar Associate Degree atau D3 di bidang sains melanjutkan kuliah S1 jurusan Teknik Industri dan Statistik di Georgia Institute of Technology di Atlanta. Tahun 2016 Moorissa lalu melanjutkan pendidikan S2 jurusan Data Science di Columbia University, di New York. Segudang prestasi ia raih selama menempuh pendidikan di Negeri Paman Sam.



Simak Video "Luhut: Soal Tesla Sampai Hari Ini Kita Masih Bicara"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)