Senin, 15 Okt 2018 18:05 WIB

Orang Terkaya Indonesia Tukar Dolar Rp 2 Triliun Naik Alphard

Trio Hamdani - detikOto
Foto: Rengga Sancaya Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Guna membantu rupiah, Dato Sri Tahir, pengusaha nasional yang juga salah satu orang terkaya Indonesia hari ini menukar dolar AS dan dolar Singapura ke rupiah senilai Rp 2 triliun.

Uang yang dia tukarkan berasal dari kantong pribadinya, bukan uang perusahaan. Tahir bertemu langsung oleh Gubernur BI Perry Warjiyo untuk menyampaikan bukti bahwa dirinya sudah menukarkan dolarnya ke rupiah. Dolar yang ditukar, meliputi US$ 93 juta, dan SG$ 55 juta. Dengan harta yang mencapai triliunan, mau mobil apapun sepertinya bebas memilih ya?

Tapi dalam pantauan detikOto, saat Tahir menukar uangnya, dia terlihat menggunakan mobil Toyota Alphard berwarna hitam. Sepertinya mobil masih baru karena bagian head restnya masih ditutupi dengan plastik.

Tahir adalah putra asli Surabaya yang masuk 10 besar daftar orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes tahun 2018. Kekayaannya saat ini tercatat US$ 3,5 miliar atau setara dengan Rp 51,8 triliun (kurs Rp 14.800).

CEO Mayapada Group ini sukses mengelola perusahaan miliknya sejak puluhan tahun lalu. Perusahaannya meliputi sejumlah unit bidang usaha seperti perbankan, TV berbayar, media cetak, properti, hingga rumah sakit.



Pria ini hobi membagi-bagikan uang alias dermawan. Dia gemar menyumbangkan harta untuk kemanusiaan. Tak hanya di Indonesia, Tahir juga kerap menyumbang ke negara lain. Dia sering berkeliling dunia untuk menyalurkan bantuan.

Tahir juga memiliki yayasan kemanusiaan yaitur Tahir Foundation.

Namun tak disangka, pria terkaya Indonesia itu dulunya seorang anak penyewa becak yang miskin. Pria kelahiran 26 Maret 1952 ini mengaku hidup dari keluarga tak mampu. Bahkan dia tinggal di rumah kontrakan di Surabaya.

"Lebar rumah saya berapa kira-kira 3,5 meter atau 4 meter sama panjang. Orang tua saya kerjaannya sebagai penyewa becak," kata Tahir saat berbincang dengan detikFinance di kantornya beberapa waktu lalu.

Hingga mencapai kesuksesannya sekarang, Tahir mengaku tak pernah melupakan asal-usulnya sebagai seorang anak bandar becak. Bahkan, dirinya juga masih menyimpan foto-foto masa lalunya saat duduk di becak milik orang tuanya.



Selama bertahun-tahun,Tahir mengaku banyak mengalami jatuh bangun dalam usaha yang dijalaninya. Berkat kerja keras dan keteguhan hatinya, Tahir bisa membuktikan dia mampu mengubah nasibnya dari seorang anak penyewa becak yang miskin hingga menjadi konglomerat ternama Indonesia.

"Jadi saya berjuang, saya tidak ada dendam, tapi saya tidak mau diremehkan. Itu berat sekali. Maka itu, saya tidak senang dengan orang kaya, saya benci sama orang kaya. Orang kaya saya anggap itu imperialisme. Orang kaya itu kerjanya menindas, orang kaya itu kerjanya membully orang. Sampai sekarang. Habitat saya itu ada di orang miskin. Itu habitat saya," tuturnya.

Tahir punya komitmen kuat untuk selalu berbagi pada mereka yang membutuhkan. Saat Palu, Donggala, dan Sigi terkena bencana gempa bumi dan tsunami, Tahir pun datang memberi bantuan menggunakan jet pribadinya. Menggunakan jet pribadi, Tahir membawakan makanan siap saji buat korban gempa. (zlf/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed