Dilansir inautonews, Jumat (13/4/2013) Margaret Thatcher yang meninggal beberapa hari lalu tercatat memiliki jasa di industri otomotif Inggris. Dialah yang mampu mendorong perkembangan industri ini di Inggris hingga menjadi cukup maju.
Pada 1980-an produsen mobil Jepang mulai membangun pabrik perakitan di Inggris, dimulai dengan Nissan pada tahun 1986 di Sunderland. Ini adalah pabrik Jepang pertama di Eropa dan itu ada karena upaya Iron Lady.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Itu terjadi karena dia mendorong diperbolehkannya merek-merek mobil Inggris sahamnya dipegang oleh asing. Dia memulainya di 1989.
Ketika itu, Jaguar adalah merek Inggris pertama yang kepemilikannya dimiliki asing. Setelah aturan Thatcher ini berlaku, beberapa minggu kemudian Ford menghabiskan US$ 2,5 miliar atau senilai US$ 4,6 miliar pada uang saat ini untuk mendapatkan Jaguar.
Di sisi lain, General Motors (GM) mulai mengakuisisi 50% saham Saab.
Bola bergulir, pada tahun 1994 Rover Group dibeli oleh BMW dan kemudian dijual ke Ford yang memasukkannya ke dalam Premier Automotive Group bersama Volvo dan Aston Martin.
Meski kemudian Ford menjual semua merek Inggris mereka Aston martin, Land Rover dan Jaguar serta merek Swedia Volvo, langkah Thatcher ini bisa dibilang adalah pintu pembuka industri mobil Inggris untuk makin berkembang.
Sebab, dengan suntikan dana dari perusahaan asing, merek-merek Inggris itu mendapat kesempatan untuk makin berkembang dan tidak lagi menjadi 'jagoan kandang.'
(/)












































Komentar Terbanyak
Asosiasi Ungkap Biang Kerok 'Krisis Ojol' di Jakarta: Biaya Aplikasi Dipotong Gede!
Provinsi Ini Bolehkan ASN Mudik Pakai Mobil Dinas, Asalkan Bukan buat Pamer
Sewa Rp 160 Juta/Bulan, Segini Harga Mobil Land Rover yang Dipakai Wali Kota Samarinda