Ada mobil yang dibeli karena irit, ada juga yang dibeli karena rasional. Namun, ada mobil yang membuat kita rela sedikit mengesampingkan dua hal tersebut demi mendapatkan sensasi berkendara yang berbeda. Jetour T2 salah satunya.
SUV asal China ini memang bukan mobil yang bisa dibanggakan karena konsumsi bahan bakarnya. Mesin 2.0 liter turbo, dimensi besar, dan bobotnya membuat konsumsi BBM menjadi salah satu kompromi yang harus diterima.
Namun setelah kami tes dan review Jetour T2 dalam berbagai kondisi, pertanyaannya justru berubah. Apakah konsumsi BBM Jetour T2 yang boros masih bisa dimaafkan?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Perbedaan Jetour T1 PHEV dan ICE |
Jetour T2 Foto: Muhammad Hafizh Gemilang/detikcom |
Tampang Gagah, Kabin Lega
Sulit membicarakan Jetour T2 tanpa membahas desainnya. Mobil ini punya proporsi besar, mengotak, dan terlihat kokoh. Dari depan hingga belakang, aura SUV tangguh terasa begitu kuat.
Bentuk bodi boxy dan ban serep di pintu belakang bahkan membuatnya sekilas mengingatkan pada Land Rover Defender. Menariknya, tampilan tersebut ditawarkan dengan harga Rp 588 juta.
Desain menjadi salah satu alasan terkuat melirik T2, terutama bagi konsumen yang menyukai SUV bergaya retro dan memiliki karakter off-road.
Jetour T2 memiliki panjang 4.785 mm, lebar 2.006 mm, tinggi 1.870 mm, serta wheelbase 2.800 mm. Meski besar, mobil ini hanya memiliki dua baris bangku dengan kapasitas lima penumpang.
Konfigurasi tersebut justru membuat kabinnya terasa lega, terutama di baris kedua. Bagasinya juga cukup praktis karena bangku belakang dapat dilipat untuk menghasilkan ruang yang lebih luas.
Kesan mahal berlanjut ke interior. Ada panoramic sunroof berukuran besar, material yang terasa cukup baik, head unit besar, hingga sejumlah tombol fisik yang membuat pengoperasian beberapa fungsi tetap praktis.
Fitur yang ditawarkan juga lengkap, mulai dari Apple CarPlay, Android Auto, kamera 360 derajat, ADAS, hingga ventilated seat.
Sayangnya, pengaturan spion justru ditempatkan di layar. Padahal, Jetour masih menyediakan tombol fisik untuk fitur seperti mode off-road dan crawl control yang relatif lebih jarang digunakan.
Jetour T2 Foto: Muhammad Hafizh Gemilang/detikcom |
Bukan Sekadar Gaya, T2 Bisa Diajak Main Tanah
Di balik desainnya, Jetour T2 memang memiliki kemampuan untuk menghadapi medan non-aspal. Ground clearance mencapai 220 mm, dengan approach angle 39 derajat dan departure angle 33 derajat.
Sistem penggeraknya juga didukung teknologi BorgWarner. Ada sejumlah mode berkendara untuk menyesuaikan karakter mobil dengan kondisi jalan, termasuk crawl control untuk membantu mobil bergerak perlahan di medan tertentu.
Namun perlu dicatat, T2 menggunakan konstruksi monokok, bukan ladder frame. Artinya, kemampuan off-road-nya tetap memiliki batas.
T2 lebih tepat dilihat sebagai SUV yang mampu menghadapi jalan rusak dan medan non-aspal ringan hingga menengah, bukan kendaraan yang dirancang untuk menjadi monster off-road.
Jetour T2 Foto: Muhammad Hafizh Gemilang/detikcom |
245 PS yang Menyenangkan, tapi Punya Kompromi
Jetour T2 dibekali mesin 2.0 TGDi yang menghasilkan tenaga 245 PS pada 5.500 rpm dan torsi 375 Nm pada 1.750-4.000 rpm. Tenaga tersebut disalurkan melalui transmisi dual-clutch 7-percepatan.
Ketika sudah bergerak, karakter mesinnya terasa menyenangkan. Tarikan pada putaran menengah hingga atas kuat dan responsif. Di jalan tol, tenaga 245 PS membuat T2 punya cadangan performa yang cukup.
Namun karakter tersebut tidak selalu terasa mulus di perkotaan. Pada kondisi stop and go, transmisi dual-clutch terkadang terasa kurang halus. Respons awal juga bisa sedikit kikuk, ditambah getaran yang cukup terasa ketika berakselerasi dari kecepatan rendah.
Meski berdimensi besar, T2 ternyata tidak terlalu merepotkan untuk dikendarai di kota. Karakter monokok membuat sensasi berkendaranya lebih dekat dengan SUV perkotaan dibanding SUV ladder frame.
Setirnya juga cukup responsif untuk melakukan manuver maupun putar balik. Pengemudi tetap harus beradaptasi dengan dimensi bodi dan posisi ban serep yang membuat visibilitas ke belakang sedikit terbatas.
Suspensinya cenderung agak kaku, tetapi karakter tersebut masih bisa diterima mengingat T2 memang dirancang untuk menghadapi permukaan jalan yang beragam.
Jetour T2 Foto: Muhammad Hafizh Gemilang/detikcom |
Lalu, Seberapa Boros?
Nah, ini bagian yang menjadi catatan terbesar. Dengan mesin 2.0 turbo tanpa bantuan sistem hybrid, jangan berharap konsumsi BBM T2 bisa menyamai SUV bermesin kecil atau kendaraan elektrifikasi.
Dalam pengujian kami, konsumsi bahan bakar di rute perkotaan cukup sulit menembus 9 km/l. Sementara di rute tol, sekitar 11 km/l sudah tergolong hasil yang cukup baik.
Angka tersebut jelas bukan konsumsi yang bisa disebut irit. Dengan kapasitas tangki 70 liter, pengguna dengan mobilitas tinggi juga harus siap lebih sering mampir ke SPBU dibanding pemilik SUV hybrid. Namun di sinilah komprominya.
Jetour T2 menawarkan mesin 245 PS, bodi besar, kabin lega, fitur lengkap, kemampuan menghadapi medan non-aspal, serta desain yang membuatnya terlihat seperti SUV dengan harga jauh lebih mahal.
Kalau prioritas utama adalah efisiensi BBM atau kenyamanan transmisi saat stop and go, ada banyak pilihan lain yang lebih rasional.
Tetapi jika yang dicari adalah SUV dengan desain mencolok, performa kuat, kabin lega, fitur lengkap, dan kemampuan menghadapi jalan rusak, Jetour T2 menawarkan paket yang cukup menarik dengan harga Rp 588 juta.
Pada akhirnya, T2 memang meminta sebuah kompromi. Konsumen harus menerima konsumsi BBM yang tidak istimewa untuk mendapatkan tenaga besar, karakter SUV yang kuat, serta sensasi berkendara yang berbeda.
Dan untuk orang yang memang mencari paket seperti itu, borosnya Jetour T2 masih terasa layak dimaafkan.
(mhg/rgr)













































