F1 Sepang Tetap Digelar Meski Malaysia Dikepung Asap-Panas Ekstrem

F1 Bahrain di Malaysia

F1 Sepang Tetap Digelar Meski Malaysia Dikepung Asap-Panas Ekstrem

Septian Farhan Nurhuda - detikOto
Kamis, 01 Okt 2026 16:09 WIB
Malaysia yang berkabut.
F1 di Malaysia digelar di bawah kabut. Foto: Doc. Lancaster Online.
Jakarta -

Formula 1 (F1) kembali ke Sirkuit Sepang, Malaysia, akhir pekan ini. Namun, balapan pengganti GP Bahrain itu tak datang dalam kondisi ideal. Tim dan pebalap harus menghadapi ancaman kabut asap, hujan deras, hingga suhu panas.

GP Bahrain dijadwalkan ulang ke Malaysia setelah balapan di Bahrain dan Arab Saudi sebelumnya dibatalkan akibat perang Iran. Bahrain kemudian kembali masuk kalender, namun balapannya dipindahkan ke Sepang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kembalinya F1 ke Sepang juga menjadi momen spesial. Balapan terakhir di sirkuit tersebut berlangsung pada 2017, sehingga ini menjadi penampilan pertama F1 di Malaysia setelah sembilan tahun.

Meski begitu, kondisi cuaca dan lingkungan menjadi tantangan besar.

ADVERTISEMENT

Balapan di Bawah Kabut Asap

Malaysia yang berkabut. Foto: Doc. Lancaster Online.

Kawasan Asia Tenggara saat ini dilanda kebakaran hutan, terutama di Indonesia. Kondisi tersebut memicu penurunan kualitas udara di sejumlah wilayah Malaysia dan Indonesia, termasuk Kuala Lumpur dan area di sekitarnya.

Data Kementerian Kehutanan Indonesia yang dikutip The National News mencatat ada 15.461 titik panas sepanjang September. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2019 dan menjadi yang tertinggi kedua setelah 2015.

Dampak buruknya kualitas udara bahkan sudah terasa di Singapura. Ajang half-marathon yang digelar akhir pekan lalu harus memangkas jarak lomba dari 21,1 km menjadi 10 km akibat kondisi udara.

Sementara itu, Sirkuit Sepang berjarak sekitar 45 km di sebelah selatan Kuala Lumpur. Bukan hanya kabut asap, suhu panas tinggi juga menjadi tantangan saat F1 Bahrain di Malaysia. Menurut BBC, suhunya diklaim bisa mencapai 33 derajat dengan high humidity.

Dengan status heat hazard, pebalap diperbolehkan menggunakan sistem pendingin khusus di dalam mobil. Sistem tersebut mengalirkan cairan dingin, seperti glikol, melalui pipa yang terpasang pada pakaian khusus tahan api yang dikenakan di balik baju balap.

Meski demikian, bukan tak mungkin hujan turun menjelang F1 Bahrain di Malaysia. Perpaduan lintasan basah dan suhu yang terasa panas diperkirakan membuat balapan semakin sulit diprediksi.

Di sisi lain, hujan juga bisa membawa dampak positif. Guyuran hujan yang turun tepat waktu berpotensi membantu mengurangi dampak kebakaran hutan sekaligus membersihkan kabut asap di kawasan tersebut.

Setelah GP Malaysia, F1 akan langsung bertolak ke Singapura untuk menjalani balapan berikutnya.



(sfn/dry)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads