Pabrikan Jepang Harus Percepat Motor Listrik, Jika Tidak Ingin Ketinggalan China

Luthfi Anshori - detikOto
Jumat, 27 Nov 2020 19:56 WIB
Honda pcx electric, honda pcx listrik
Honda PCX Electric. Foto: PT Astra Honda Motor
Jakarta -

Pabrikan Jepang harus segera melakukan akselerasi pemasaran sepeda motor listrik. Sebab jika tidak, mereka bisa tertinggal dari negara China yang kini sudah menguasai industri komponen kendaraan listrik.

Di Indonesia, merek otomotif Jepang, seperti Honda, Yamaha, dan Suzuki, sama sekali belum memiliki kendaraan listrik full baterai yang dipasarkan ke konsumen umum.

Honda memang sudah memiliki satu model kendaraan listrik, PCX hybrid, yang dijual untuk umum. Namun untuk model full baterai seperti PCX Electric, masih sebatas disewakan untuk konsumen fleet (armada).

Sementara Yamaha pernah memperkenalkan skuter listrik e-Vino pada 2017 silam, akan tetapi hanya berupa prototipe dan digunakan untuk studi internal Yamaha Indonesia. Sedangkan Suzuki Indonesia terpantau belum aktif bergerak dalam hal elektrifikasi.

Menurut pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu, saat ini China mendominasi dan memiliki posisi kuat di bidang elektrifikasi kendaraan, dibanding negara lainnya.

"Bicara sepeda motor listrik itu ada di tiga komponen utama, baterai, motor penggerak listrik, dan BMS (Battery Management System). Untuk baterai, terus terang, China yang paling maju dan siap untuk harga dengan keekonomian yang sangat kompetitif. Pabrik baterai mereka sudah menguasai pasar baterai dunia," kata Yannes, kepada detikOto, Jumat (27/11/2020).

Tidak hanya dari komponen baterai saja, menurut Yannes, China juga sudah menguasai sistem BMS-nya, karena hampir semua produk kelas atas dunia diproduksi di China untuk pasar global.

"Sementara untuk motor penggerak electric drive train yang paling maju saat ini di dunia adalah Bosch dari Jerman. Saat ini produksinya sudah dilakukan di China sejak lama, dan untuk menyuplai kebutuhan pasar China sendiri. Electric motor Bosch digunakan di semua sepeda motor China kelas menengah atas," lanjut Yannes.

Lanjut Yannes menambahkan, saat ini tidak ada seorang pun yang bisa menahan laju pertumbuhan tren kendaraan listrik. Sebab cadangan minyak bumi semakin menipis, diprediksi tahun 2045 habis.

"Jadi kalau (pabrikan) Jepang tidak segera speed up, mereka akan tertinggal jauh," tandasnya.



Simak Video "Resmi! 43 Kendaraan Listrik di Sulsel Beroperasi dengan Pelat"
[Gambas:Video 20detik]
(lua/din)