Kamis, 20 Jun 2019 17:04 WIB

Sulitkah Kendarai Moge seperti yang Dipakai Putra Ketua MA?

Rangga Rahadiansyah - detikOto
BMW R 1200 GS. Foto: Grandyos Zafna BMW R 1200 GS. Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Putra Ketua Mahkamah Agung (MA) Hatta Ali, Mohammad Irfan, meninggal dalam kecelakaan saat ikut touring motor gede (moge) di Afrika. Motor yang ditunggangi tersebut terbilang berat dan besar. Sulitkan mengendarai motor itu?

Untuk diketahui, motor yang digunakan Irfan adalah BMW R 1200 GS. Motor itu pakai mesin 1.200 cc.

Instruktur dan Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengatakan, mengendarai motor besar dengan motor kecil tentunya berbeda. Karena pada dasarnya mengendarai sepeda motor atau bahkan mobil dipengaruhi juga oleh dimensi, tenaga mesin, hingga bobotnya.



"Kebetulan motor besar ini memiliki power yang berbeda dengan motor kecil, sangat powerful, signifikan sekali perbedaannya. Dari bobot, motor besar memiliki bobot yang luar biasa. Contoh Harley sampai setengah ton, kalau bicara BMW ini bisa 300-an kg. Dimensinya juga besar dan tinggi," kata Jusri kepada detikcom melalui sambungan telepon, Kamis (20/6/2019).

Maka dari itu, kata Jusri, pengemudinya harus memperhatikan cara mengendarainya. Salah satu hal yang penting adalah menyikapi bobot kendaraan tersebut.

"Ketika motor bergerak pelan maka ini akan membuat kesulitan bagi pengemudi yang memiliki postur ukuran orang Asia. Karena bobot kendaraan langsung ditumpu oleh pengemudi khususnya saat lalu lintas stop and go atau lintasan jelek. Tapi, kalau dia bergerak dengan ada kecepatan maka yang terjadi bobot ini bukan menjadi masalah bagi pengemudinya. Namun kalau dia bergerak dengan cepat, maka ada risikio-risiko lain yang harus disikapi pengemudi dengan benar," sebut Jusri.

Meski begitu, Jusri menekankan bahwa mengendarai motor besar maupun motor kecil bukan hanya persoalan teknik. Masalah teknik mengendarai motor tidak menjadi masalah utama. Yang menjadi perhatian pengendara baik motor kecil maupun motor besar adalah pola pikir pengendara saat berkendara di jalan raya yang merupakan ruang publik. Juga cara menyikapi ancaman bahaya di jalan raya.



"Karena ruang publik, yang namanya jalan raya itu komponennya banyak sekali. Mulai dari manusia yang sangat variatif, kendaraan yang bermacam-macam kondisinya ada yang jelek ada yang tidak ada remnya dan sebagainya, ada juga binatang yang mungkin muncul di daerah-daerah tertentu. Belum lagi kondisi infrastruktur ada aspal, pasir, gravel dan sebagainya. Ditambah lagi cuaca dan udara. Intinya secara keseluruhan teknik bukan suatu masalah besar. Lebih kepada bagaimana kita menyikapi kondisi bahaya," sebut Jusri.

Soal kecelakaan saat touring yang menewaskan Irfan, Jusri belum mengetahui pasti penyebabnya. Yang pasti, menurut Jusri, Irfan merupakan penunggang moge yang berpengalaman.

"Perlu diketahui almarhum (Irfan) adalah biker kawakan yang sudah melakukan perjalanan di berbagai negara," ujar Jusri yang turut memberikan briefing seputar safety riding kepada rombongan mendiang Irfan dkk sebelum berangkat touring ke Afrika. (rgr/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com