Rencana Korps Lalu-lintas Kepolisian Republik Indonesia (Korlantas Polri) untuk menggolongkan SIMC berdasar kapasitas motor yang dikendarai pemilik, disambut positif PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM). Sebagai wujud dukungan, YIMM bakal meningkatkan kualitas pelatihan keterampilan pengetahuan teknis bagi pembeli motor 250 cc atau lebih.
"Selama ini kami sudah memberikan pengetahuan dan pelatihan atau coaching clinic bagi pembeli motor 250 cc ke atas, atau motor-motor CBU (yang diimpor secara utuh dan berkapasitas mesin besar). Kami juga menggelar fun day race. Ini semua untuk mengasah dan meningkatkan skill," papar Asisten General Manager Marketing PT YIMM, Mohammad Masykur saat dihubungi detikOto di Jakarta, Senin (11/1/2016).
Menurutnya, langkah itu sejatinya bukan semata-mata karena ingin menyiapkan pemilik untuk menghadapi ujian dengan SIM C golongan baru. Namun, lanjutnya, pemberian pemahamanan teknis dan meningkatkan keterampilan itu merupakan tanggung jawab pihaknya kepada konsumen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masykur menyebut, penggolongan SIM berdasar kapasitas mesin sebuah kendaraan wajar diberlakukan karena secara teknis baik besaran tenaga yang dihasilkan mesin dan pengendaliannya juga berbeda. Mesin besar kapasitas mesin, maka semakin besar pula tenaga dan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan pengendalian yang berbeda.
"Oleh karena itu, dengan adanya ketentuan baru (penggolongan SIM C berdasar kapasitas mesin), dengan metode dan materi ujian yang berbeda, maka kami juga semakin meningkatkan pelatihan kepada konsumen dan pemilik motor," terangnya.
Hanya, soal siapa pengguna motor yang berkapasitas besar-- apakah berusia muda atau dewasa--Masykur tak bisa menjamin. Soalnya, penggunaan motor setelah dibeli dari diler merupakan tanggung jawab sepenuhnya pemilik.
"Tetapi kalau konsisten dengan aturan, bahwa untuk mendapatkan SIM minimal 17 tahun. Nah, untuk mendapatkan SIM C1 yang diperuntukkan bagi motor 250 cc hingga 500 cc, usia berapa? Ataurannya saya pribadi belum tahu, kabarnya disebutkan setelah satu tahun mendapatkan SIM C," kata dia.
Bagi Masykur, usia bukanlah patokan yang pasti untuk melihat kematangan mental dan emosi seseorang saat berkendara. Soalnya, fakta menunjukkan, tidak sedikit orang yang berusia lebih tua ternyata memiliki emosi yang stabil dibanding mereka yang lebih muda. "Jadi, soal emosi dan sikap dalam berkendara ini perlu mendapatkan penyadaran dan bisa dilatih," imbuhnya.
(arf/ddn)












































Komentar Terbanyak
Bengkel Belum Ada, Kok BGN Nekat Beli 25 Ribu Unit Motor MBG?
Diduga Mirip Produk China Rp 8 Juta, Kok Bisa Motor MBG Tembus Rp 40 Juta?
Dealer Mobil Jepang Berguguran di RI, Menperin Wanti-wanti Begini