Ditantang Bikin Moge, Apa Jawaban Yamaha?

ADVERTISEMENT

Ditantang Bikin Moge, Apa Jawaban Yamaha?

- detikOto
Jumat, 03 Agu 2012 15:21 WIB
Yamaha R1
Jakarta - Produsen motor Kawasaki menantang produsen motor besar seperti Honda dan Yamaha untuk meramaikan pasar motor besar di Indonesia. Kawasaki percaya kalau kedua raksasa itu ikut bermain, moge bisa jadi tren baru di Indonesia.

Direktur Marketing PT Kawasaki Motor Indonesia Mitsuhiko Okada sebelumnya
menuturkan kalau pajak masuk untuk motor-motor berkapasitas mesin besar ke Indonesia sangatlah besar bahkan lebih besar bila dibanding Jepang dan Amerika.

Dia pun berharap kalau Honda dan Yamaha ikut bermain di segmen ini. Karena bila banyak pemain, maka para produsen bisa bersama-sama untuk menekan pemerintah menurunkan pajak yang dibebankan untuk tiap motor besar yang masuk ke Indonesia.

Bila hal itu bisa dilakukan, maka akan sangat mungkin harga moge di Indonesia akan makin terjangkau dan moge akan menjadi tren baru di Indonesia.

"Saya selalu ngomong, ayo Honda, ayo Yamaha, bawa motor besar. Kalau banyak yang main kan kita bisa tekan bersama-sama," tuntasnya.

Namun, GM Promotion and Motorsport PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) Eko Prabowo mengatakan kalau Yamaha hingga saat ini belum berniat untuk turun di segmen motor bermesin besar. Dia menuturkan kalau segmen motor berkapasitas mesin kecil masih sangatlah besar dan potensial untuk digarap.

"Marketnya kecil. Untuk sementara itu, kita masih konsentrasi di mass product," katanya.

Namun, meski begitu, bila suatu saat nanti Yamaha sudah berubah haluan atau ada konsumen yang menginginkan motor besar, Yamaha Indonesia menurut Eko tinggal membawanya karena Yamaha sebenarnya sudah memiliki barisan motor besar.

"Untuk motor besar kan sudah diproduksi di Jepang, kalau memang minat bisa impor," cetusnya.

Eko juga mengakui selain memang sedang berkonsentrasi pada pemenuhan kebutuhan motor bermesin kecil, keengganan Yamaha untuk membawa motor besar memang terkait di masalah pajak yang besar yang membuat harga motor besar jadi sedemikian tinggi.

"Jadinya akhirnya tidak banyak orang yang menikmati, hanya kalangan pehobi saja," lugas Eko.

(syu/ddn)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT