Wacana Motor Bensin Bisa Ditukar Tambah Motor Listrik, Begini Usulan Skemanya

Wacana Motor Bensin Bisa Ditukar Tambah Motor Listrik, Begini Usulan Skemanya

Tim detikcom - detikOto
Senin, 24 Agu 2026 13:24 WIB
Wacana Motor Bensin Bisa Ditukar Tambah Motor Listrik, Begini Usulan Skemanya
Ilustrasi motor listrik. Foto: Andhika Prasetia
Jakarta -

Presiden Prabowo Subianto mendorong percepatan transisi motor bensin ke motor listrik dengan meluncurkan berbagai program insentif. Salah satunya dengan skema tukar tambah motor bensin dengan motor listrik. Bagaimana tanggapan Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli)?

Pemerintah menyiapkan skema pendukung bersama Danantara, termasuk rencana penurunan bunga cicilan, hingga opsi tanpa uang muka (DP). Selain itu, pemerintah juga tengah mengkaji skema tukar tambah bagi masyarakat yang ingin beralih dari motor bensin ke motor listrik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita tadi hitung memakai motor listrik dibandingkan pakai motor bensin, penghematannya minimal 50 persen, pengeluaran kalian untuk sehari-hari bergerak itu minimal 50 persen, bahkan bisa sampai 70 persen di ujungnya. Ya, dan nanti mungkin, karena ini sudah kebutuhan dunia. Jadi ada namanya carbon tax. Di kota-kota besar, seperti di Beijing, enggak bisa motor bensin masuk. Jadi ini warning saja, yang, yang masih masih nekat gandrung dengan motor bensin, ya," kata Prabowo belum lama ini.

"Tapi, tenang saja. Kita ada skema-skema nanti. Yang sudah terlanjur punya motor bensin, nanti kita pikirkan bagaimana kita bisa, bisa tukar tambah. Kau setor motor yang lama dapat motor baru. Ya, tambah dikit, lah. Iya, kan? Kalau TNI Polri maunya enggak bayar saja terus," ungkap Prabowo lagi.

ADVERTISEMENT

Usulan Aismoli

Ketua Umum Aismoli Budi Setiyadi mengatakan, skema tukar tambah tersebut dapat memberikan dua dampak sekaligus bagi pasar. Konsumen mendapatkan jalur yang lebih mudah untuk mengganti kendaraan, sementara pemerintah memiliki instrumen untuk mendorong pengurangan kendaraan berbahan bakar bensin secara bertahap.

Nilai motor lama akan menjadi bagian penting dalam mekanisme tersebut. Semakin jelas harga dan proses penilaian kendaraan lama, semakin mudah konsumen menghitung selisih biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan motor listrik.

"Jadi artinya motor yang lama itu mungkin dihargai berapa, kemudian harga motor lama itu diberikan untuk motor listrik," kata Budi dikutip dari CNBC Indonesia (24/8/2026).

Namun, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh mekanisme transaksi di gerai. Kendaraan lama yang telah masuk program juga perlu dipastikan tidak akan kembali ke pasar kendaraan bekas dan digunakan oleh pemilik baru.

Karena itu pengelolaan kendaraan hasil trade-in menjadi bagian penting dari skema. Proses penghentian penggunaan kendaraan lama harus punya mekanisme yang jelas agar tujuan pengurangan konsumsi BBM tidak kehilangan efektivitasnya.

"Tapi motor lamanya itu tidak dijual lagi, mungkin langsung di-scrapping gitu, tidak boleh digunakan lagi gitu karena memang kan intinya untuk mengganti motor lama dengan motor yang baru untuk supaya nanti ada pengurangan subsidi BBM," tukas Budi.



(lua/din)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads