Kedua motor modifikasi itu sempat tertahan hingga satu minggu lamanya di pelabuhan Tanjung Priok.
"Sudah sejak hari Rabu minggu lalu ketahan disana, baru aja bisa keluar," ujar modifikator Lulut Puspo Wibowo si pemilik Kyai Perkoso ketika ditemui di Jakarta, Kamis (1/7/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita juga bingung, tapi yang penting sekarang sudah keluar," pungkasnya.
Padahal baik Kyai Perkoso dan Enggang Merah menjadi duta Indonesia di kontes modifikasi yang diselenggarakan di Pasifico Hall, National Convention Center, Yokohama-Jepang pada 29-30 Mei 2010 lalu itu di negeri matahari terbit sempat disanjung karena detail dan keindahan modifikasinya.
"Di Jepang kita dipuji, di Indonesia malah dipersulit," keluhnya.
Kyai Perkoso sendiri dengan gagah menampilkan ornamen ukiran Kalamakara dan corak batik khas Jawa yang membalut tubuhnya. Warga Jepang dan builder dari seluruh dunia pun menatapnya dengan kagum.
Motor modif yang mengambil basic dari sebuah motor besar Harley-Davidson Sporter 1.200 cc tahun 2007 ini namanya diberikan langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sebuah acara khusus untuk melepasnya berangkat sebagai wakil Indonesia.
Ikut menemani Kyai Perkoso, hadir pula Enggang Merah yang merupakan pemenang kontes modifikasi U Mild U Bikers hasil karya builder daerah asal Samarinda, Fajar Anand dari Rand Custom Work Samarinda.
Motor modifikasi berciri khas budaya Borneo ini dibangun dari motor Suzuki Thunder 250 cc tahun 2003 dan bergaya Prostreet Chopper.
Motor-motor karya anak bangsa diantara 200 motor custom dunia termasuk mencolok mata dan disambut hangat oleh Official Cool Breaker serta sekitar 4.000 orang pengunjung.
"Mereka antusias sekali liat hasil modifikasi Indonesia," tukas Lulut.
(ddn/ddn)










































