Restu Sri Sultan untuk Kyai Perkoso

Restu Sri Sultan untuk Kyai Perkoso

- detikOto
Selasa, 25 Mei 2010 13:27 WIB
Restu Sri Sultan untuk Kyai Perkoso
Jakarta - Siapa bilang tren modifikasi di Indonesia selalu mengikuti luar negeri. Buktinya motor hasil garapan rumah modifikasi Retro Classic Cycles, Yogyakarta ini sanggup menciptakan tren baru.

Bahkan motor yang akan diadu di ajang kontes modifikasi Cool Breaker 2010 di Yokohama, Jepang 29-30 Mei 2010 ini sudah mendapat restu khusus dari Sultan Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Sri Sultan sampai rela bersusah payah untuk mencarikan nama motor modifikasi yang yang berkonsep batik dengan tema 'Relief Kekayaan Budaya dari Jawa Untuk Dunia'.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebab selain akan bertarung di Jepang, hadirnya motor ini di ajang international juga dapat diartikan sebagai penyebaran dan pengenalan budaya dan seni pulau Jawa.

Sultan pun memberikan tiga pilihan nama yakni Kyai Gagah, Kyai Perkoso dan Kyai Gagah Perkoso.

"Semoga pilihan nama tersebut di atas dapat membawa harapan dan makna yang besar dalam segala kegiatan," tulis Sultan Hamengku Buwono X dalam suratnya untuk Lulut.

Akhirnya nama Kyai Perkoso pun dipilih oleh sang pemilik Lulut Puspo Wibowo. Nah ternyata Kyai Perkoso tidak hanya memiliki latar belakang yang istimewa, desain modifikasi secara keseluruhan pun bisa dikatakan detail dan istimewa.

Kyai Perkoso dibangun dari Harley-Davidson Sportster 1.200 cc buatan tahun 2007. Berbekal konsep 'Back to Own Culture', builder yang biasa disapa LT itu melaburi Harley-nya dengan berbagai motif batik dari tanah Jawa.

Motif-motif batik Jawa yang terkenal seperti motif Jlamprang di bagian tengah tangki, motif batik Truntum, motif Parang Rusak dan motif Kawung terlihat hadir di motor ini.

Tidak hanya itu, seni dan budaya Jawa seperti kerajinan seni ukir dan kriya logam pun sangat kental terlihat di berbagai detail motor.

Lihat saja frame motor ini yang dihiasi paint strip dengan salah satu roda kereta kencana Kraton Yogyakarta. Pada bagian mesin juga tak ketinggalan sentuhan nuansa Jawa yang dikreasikan lewat seni ukir atau kriya logam yang merepresentasikan batu relief Candi Prambanan.

"Dalam membikin motor ini saya dahului dengan riset dan mengumpulan data lapangan, seperti berkunjung ke Museum Batik, Museum Sonobudoyo, Museum Kereta Kraton, berkunjung ke Kraton, ke Candi Prambanan, memperlajari dari buku buku literatur Jawa dan berkunjung ke beberapa pengrajin untuk bertukar pikiran," papar LT dalam surat elektronik yang diterima detikOto, Selasa (25/5/2010).

Sementara untuk beberapa bagian, LT terlihat sangat terinspirasi oleh kemegahan Candi Prambanan. Lihat saja cover filter udara yang terbuat dari kuningan dan berukir motif motif Kalamakara yang yang diambil dari relief Candi Prambanan.

Kalamakara adalah raksasa bertaring, bermata lebar, berambut gimbal (beberapa relief berambut api) yang biasanya di tempatkan di tempat tempat penting (tempat
suci), gunanya untuk penolak bala. Dalam beberapa literatur di ungkapkan Kalamakara itu awalnya berupa dewa yang tampan.

Sedangkan di bagian belakang spakbor Lulut menghiasinya dengan motif ornamen yang diadopsi dari hiasan rambut, putri-putri bangsawan Kraton.

Kreasi LT tidak berhenti, desain setangnya sangat unik yang disebut oleh sang builder dengan sebutan Sungu Kebo alias Tanduk Kerbau. Ide membuat desain stang seperti ini diambil dari Kerbau Jawa yang memiliki Tanduk, dalam istilah Jawa Sungu sebuah deskripsi riil kehidupan petani di tanah Jawa dan Indonesia.

Gilanya lagi, selain membatik si Kyai Perkoso, LT pun ternyata juga mengacak-acak bagian mesin kendaraan.

Hal yang tak kalah rumit itu terjadi karena LT nekad hendak mengukir bagian mesin layaknya relief candi prambahan, detail pahatan batu batuan candi yang kadang asimetris-pun juga sangat jelas terlihat. Dan kalau dilihat sepintas persis batuan candi.

Karena itulah Lulut terlihat sangat percaya diri. Pembuatan motor ini pun seolah memberinya pengalaman berharga bagaimana caranya mencintai kebudayaan bangsa khususnya Jawa.

"Dari membangun motor inilah akhirnya pemahaman saya tentang budaya Jawa dan warisan sejarah yang terukir indah di candi-candi bertambah," tutup Lulut.

Wah semoga sukses di Jepang nanti...
(syu/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads