Harga Mobil Listrik Kini Lebih Murah dari Hybrid

Harga Mobil Listrik Kini Lebih Murah dari Hybrid

Septian Farhan Nurhuda - detikOto
Kamis, 13 Agu 2026 09:49 WIB
Ekosistem kendaraan listrik di Indonesia tidak terlepas dari stasiun pengisian daya. Dalam hal ini, DFSK-Seres bekerja sama dengan Voltron memperluas charging station.
Mobil listrik. Foto: Andhika Prasetia
Jakarta -

Harga mobil listrik (EV) secara global mulai menunjukkan perubahan. Data terbaru menunjukkan, pada 2025 rata-rata harga mobil listrik justru lebih rendah dibandingkan mobil hybrid.

Berdasarkan data Mobility Global yang dikutip Nikkei Asia, rata-rata harga mobil listrik secara global tahun lalu berada di kisaran US$ 37.000 atau sekitar Rp 660 jutaan. Angka ini turun 9% dibandingkan 2020.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebaliknya, harga rata-rata mobil hybrid naik 16% dalam periode yang sama menjadi sekitar US$ 39.000.

Mobil China Jadi Pendorong

Chery Tiggo Cross CSH Hybrid dan Chery Tiggo Cross Sport 1.5T diperkenalkan di panggung Gaikindo Indonesia International Auto Show GIIAS 2025 di ICE BSD City, Tangerang, Rabu (23/7/2024).Mobil Hybrid Chery Foto: Rifkianto Nugroho

Penurunan harga EV tidak lepas dari semakin banyaknya mobil listrik murah asal China yang masuk ke berbagai negara.

ADVERTISEMENT

Ekspor mobil listrik China meningkat pesat. Pada 2020, jumlah EV yang diekspor masih di bawah 100.000 unit. Tahun lalu, angkanya melonjak menjadi sekitar 1,64 juta unit.

Di sejumlah pasar berkembang, termasuk Asia Tenggara dan Amerika Selatan, harga mobil listrik bahkan sudah lebih rendah dibandingkan rata-rata mobil hybrid.

Thailand menjadi salah satu contohnya. Merek-merek mobil China kini menyumbang hampir 30% dari penjualan mobil baru di negara tersebut.

Harga Baterai Terus Turun

Mercedes-Benz mengetes EQS dengan baterai Solid-stateBaterai mobil listrik Foto: Mercedes-Benz AG/Mercedes-Benz AG – Communicati

Faktor penting lainnya adalah penurunan harga baterai lithium-ion. Sepanjang 2020-2025, biaya baterai tercatat turun sekitar 37%.

Baterai sendiri biasanya menyumbang sekitar 30-40% dari total biaya produksi sebuah mobil listrik.

BloombergNEF menyebut kapasitas produksi baterai yang berlebih di China menjadi salah satu faktor utama di balik penurunan harga tersebut. China saat ini menguasai sekitar 80% pasar baterai kendaraan listrik dunia.

Selain itu, semakin banyak produsen yang menggunakan baterai lithium iron phosphate (LFP). Baterai ini tidak menggunakan kobalt, sehingga biaya produksinya relatif lebih stabil.

Teknologi LFP yang sebelumnya dikenal memiliki kepadatan energi lebih rendah juga terus berkembang. Renault dan Volkswagen bahkan telah menyatakan akan mengadopsi teknologi tersebut.

Harga Mobil Bensin Justru Naik

Tren harga EV berbanding terbalik dengan mobil bermesin pembakaran internal (ICE).

Dalam lima tahun terakhir, rata-rata harga mobil ICE justru mengalami sedikit kenaikan. Sementara itu, harga plug-in hybrid turun cukup signifikan, yang juga diperkirakan berkaitan dengan semakin murahnya teknologi baterai LFP.

Dengan harga EV yang semakin kompetitif, mobil listrik kini tak lagi selalu identik dengan kendaraan mahal.

Apalagi, kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah turut membuat biaya penggunaan mobil berbahan bakar bensin dan diesel meningkat. Kondisi tersebut berpotensi membuat mobil listrik semakin menarik bagi konsumen.

Tren ini menunjukkan bahwa keunggulan EV ke depan bukan hanya soal ramah lingkungan atau biaya operasional, tetapi juga harga beli yang semakin terjangkau.



(sfn/din)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads