BYD Atto 1 vs Agya-Brio Cs, Mana Lebih Laris?

BYD Atto 1 vs Agya-Brio Cs, Mana Lebih Laris?

Dina Rayanti - detikOto
Sabtu, 14 Feb 2026 09:31 WIB
Ilustrasi mobil LCGC
Ilustrasi mobil LCGC. Foto: Dok. Istimewa
Jakarta -

Kehadiran mobil listrik seharga Rp 200 jutaan seperti BYD Atto 1 disebut-sebut mengganggu penjualan LCGC. Berikut ini catatan penjualan LCGC vs BYD Atto 1 pada Januari 2026.

Persaingan di pasar mobil listrik dalam negeri makin meriah. Makin ke sini, makin banyak mobil listrik dengan harga terjangkau berdatangan ke Indonesia. Mulai Rp 200 jutaan pun ada ragam pilihannya. Namun di sisi lain, keberadaan mobil listrik harga Rp 200 jutaan ini justru jadi sorotan. Sebab, tidak sedikit yang menyebut deretan mobil listrik ramah kantong itu 'memakan' jatah mobil di segmen Low Cost Green Car (LCGC).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Data yang dihimpun Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan, penjualan LCGC sepanjang tahun 2025 turun 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pasar LCGC itu dimakan oleh pendatang baru BYD Atto 1.

Catatan penjualan BYD Atto 1 bahkan sempat mengalahkan keseluruhan penjualan LCGC pada periode Oktober 2025. Namun kalau dihitung secara keseluruhan selama 12 bulan tahun 2025, LCGC masih lebih unggul. Lalu bagaimana dengan tahun 2026?

ADVERTISEMENT

Dalam data penjualan terbaru yang dirilis Gaikindo periode Januari 2026, LCGC masih jauh lebih unggul dari BYD Atto 1. Pada awal pembuka tahun 2026 itu, distribusi BYD Atto 1 hanya mencapai 3.361 unit. Sementara itu LCGC secara keseluruhan mencatatkan distribusi sebanyak 10.694 unit yang merupakan kontribusi lima model yaitu Honda Brio Satya, Toyota Calya, Toyota Agya, Daihatsu Sigra, dan Daihatsu Ayla.

Sebelumnya, Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto sempat menyebut bahwa kehadiran mobil listrik murah menjadi tantangan tersendiri buat mobil di segmen LCGC.

"LCGC kita rusak, turun sampai 37 persen. Karena sekarang dengan Rp 200 jutaan orang sudah bisa dapat mobil listrik dengan desain bagus dan fitur lengkap," kata Jongkie.

Meski begitu dia meyakini, segmen kendaraan murah masih memiliki potensi besar di Indonesia. Pergeseran teknologi ke kendaraan elektrifikasi menjadi keniscayaan.

Penurunan di segmen LCGC bukan hanya karena kedatangan pendatang baru. Faktor lain yang mempengaruhi penurunan LCGC adalah kondisi perekonomian para pembeli mobil pertama. Kebanyakan para pembeli mobil pertama itu memanfaatkan skema kredit dalam pembelian LCGC. Namun, tahun lalu industri pembiayaan menghadapi kendala serius terkait rasio kredit macet.




(dry/din)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads