Produksi Mobil Toyota Rakitan Indonesia Menurun, Ini Sebabnya

Produksi Mobil Toyota Rakitan Indonesia Menurun, Ini Sebabnya

Luthfi Anshori - detikOto
Jumat, 01 Des 2023 11:38 WIB
Ratusan mobil merk Toyota yang siap di ekspor berada di Indonesia Kendaraan Terminal, Tanjung Priok,  Jakarta Utara, Rabu (5/9). Toyota Indonesia mencatat telah mengekspor total 1,38 juta unit kendaraan completely built up (CBU)β€Ž sejak mulai pengapalan Kijang generasi ketiga pada Agustus 1987 hingga Juli 2018.
Pasar otomotif dunia di tahun 2023 masih lesu. Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Tahun 2023 menyisakan 30 hari lagi. Industri otomotif global masih mengalami pelemahan permintaan. Hal ini juga berdampak ke pasar otomotif Indonesia, khususnya merek mobil penguasa market seperti Toyota.

Sebagai info, tahun 2022 Toyota Indonesia memproduksi mobil sebanyak 602.419 unit atau 41,0 persen dari total produksi mobil Indonesia sebanyak 1.470.146 unit. Lalu melihat performa tahun ini, sepanjang Januari-Oktober 2023 Toyota baru memproduksi 485.057 unit atau 41,1 persen dari total produksi 1.181.514 unit.

Vice President Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam mengatakan bahwa, penurunan produksi mobil juga dialami oleh industri otomotif secara global. Banyak faktor yang menjadi penyebab.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"(2023) masih tersisa satu bulan lagi. Masalahnya, hampir di seluruh dunia itu, mengalami pelemahan permintaan, termasuk otomotif. Di bulan Oktober itu minus 6 persen. Tidak hanya sektor otomotif, sektor lain seperti properti juga mengalami pelemahan permintaan. Ini juga yang menjadi penyebab kinerja otomotif di 2023," kata Bob.

Khusus untuk Indonesia, faktor lain yang bisa menyebabkan pelemahan permintaan mobil baru adalah faktor penyelenggaraan pesta demokrasi yang akan dilangsungkan di tahun depan.

ADVERTISEMENT

"Kemudian di 2024 kita juga menghadapi tahun politik, sehingga investasinya juga masih wait and see (melihat dan menunggu). Jadi memang ada bargaining, baik secara makro maupun demand. Walau kita masih ada di zona positif ya. Artinya, PMI masih di atas 50 walaupun menurun, index kepercayaan konsumen juga masih 120 something walaupun angkanya menurun, straight balance juga masih positif walaupun menurun year on year-nya menurun. Jadi kita masih di zona positif, walaupun trennya menurun," sambung Bob.

"Kemudian faktor likuiditas, juga kita harus lihat, karena ada kecenderungan menaikkan suku bunga, kita tunggu sampai akhir tahun ini apakah US FED itu akan menaikkan lagi atau keep. Jadi memang faktor eksternalnya seperti itu, dalam negerinya juga terpengaruh," katanya lagi.

Sementara untuk ekspor, ada kendala pada ketersediaan chip semikonduktor.

"Target awal kita sebenarnya naik 5 persen (untuk ekspor). Tapi kita juga terkendala dengan semikonduktor, misalnya kendaraan hybrid yang membutuhkan semikonduktor, itu supply chain-nya juga terbatas. Sampai sekarang masih ada kendala itu, tapi untuk model-model tertentu," tukasnya.




(lua/dry)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads