Punya Pabrik-Sesama China, Kenapa Wuling Bisa Lebih Laris dari DFSK?

ADVERTISEMENT

Punya Pabrik-Sesama China, Kenapa Wuling Bisa Lebih Laris dari DFSK?

Tim detikcom - detikOto
Jumat, 18 Nov 2022 15:46 WIB
Wuling Almaz Hybrid
Di Indonesia, penjualan Wuling lebih laris dari DFSK. Foto: Dok. Wuling Motors
Jakarta -

Wuling dan DFSK tak mau mengulang kesalahan yang dilakukan pabrikan otomotif China di masa lalu. Keduanya harus menghadapi tantangan yang sama yakni membangun lagi kepercayaan orang Indonesia akan mobil China. Belum lagi nama 'China' identik dengan kualitas barang yang kurang baik.

Maka dari itu, Wuling dan DFSK kompak membangun pabrik di Indonesia. Pembangunan pabrik ini merupakan salah satu jurus untuk meyakinkan bahwa keduanya tidak akan kabur seperti dulu. Tak cuma itu, sejumlah dealer dibangun agar bisa lebih mudah dijangkau masyarakat untuk melakukan perawatan kendaraannya.

Sama-sama datang dari China, membangun pabrik, hingga memperluas jaringan dealer nyatanya kalau bicara penjualan antara Wuling dan DFSK justru berbeda signifikan. Dalam setiap tahun, penjualan Wuling bisa berkali-kali lipat lebih banyak dari DFSK. Tercatat dalam data yang dihimpun Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), angka penjualan Wuling selalu unggul dari DFSK.

DFSK meluncurkan Glory 560 di IIMS 2019. Mobil dijual seharga Rp 189 juta.DFSK Glory 560. Foto: Pradita Utama

Sekadar gambaran dengan menggunakan data penjualan terbaru, selama Januari-Oktober 2022, Wuling telah mencatatkan penjualan sebanyak 19.498 unit sedangkan DFSK baru 1.974 unit. Bila diperhatikan dari tahun ke tahun, penjualan DFSK masih sulit menembus 5.000 unit. Mengapa bisa demikian?

Pengamat otomotif Bebin Djuana memiliki penilaiannya tersendiri. Bebin mengungkap kasus gagal nanjak yang menimpa DFSK menjadi batu sandungan untuk pabrikan yang bermarkas di Wuhan tersebut sehingga performanya tidak sebaik Wuling.

"Di awal saya punya optimisme, di tengah mereka bikin kesalahan. Waktu satu batch bermasalah, dia tidak buru-buru benerin, kan tidak semua tidak bisa nanjak," ungkap Bebin belum lama ini.

Kesalahan yang dimaksud Bebin adalah ketika ada gugatan kasus DFSK Glory 580 gagal nanjak. Saat itu ada tujuh konsumen DFSK Glory 580 Turbo CVT lansiran 2018 mengajukan surat gugatan ke PT Sokonindo Automobile yang berperan sebagai Agen Pemegang Merek (APM) DFSK di Indonesia.

Konsumen itu mengeluhkan mobil DFSK Glory 580 Turbo CVT tahun 2018 tidak kuat menanjak. Disebutkan, kendaraan mengalami kendala pada waktu berjalan di tanjakan dan/atau saat berada di jalan kemacetan yang menanjak (stop & go), baik pada saat digunakan luar kota ataupun di parkiran mal. Konsumen itu juga sudah melakukan perbaikan di bengkel namun tidak terselesaikan.

Bebin mengungkap, permasalahan itu sejatinya bisa ditangani dengan melakukan recall untuk dicek secara keseluruhan sekaligus mengembalikan citra DFSK bila memang tidak terbukti.

"Itu (recall) kan etiket baik dari produsen, dia mau lepas tangan juga bisa, terbukti kan DFSK. Dia punya data, satu batch bermasalah panggil benerin selesai enggak pakai ribut," jelas Bebin.

Wuling bukan berarti tanpa masalah. Baru-baru ini juga ada konsumen Wuling yang mengeluhkan servis mobil listrik cukup memakan waktu dan kondisi chargernya. Tak lama berselang, Wuling langsung mengecek permasalahan tersebut dan kabarnya telah terselesaikan.



Simak Video "Jurus Wuling Hadapi Pandangan soal Mobil China"
[Gambas:Video 20detik]
(dry/lth)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT