ADVERTISEMENT

Bukan Solar Subsidi, Ini BBM yang Harusnya Diminum Innova-Fortuner

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Minggu, 03 Jul 2022 10:11 WIB
Petugas melayani pengisian BBM di SPBU Pertamina 31.40101 di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (16/4/2022). Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat memastikan stok BBM dan LPG selama Ramadhan hingga arus mudik lebaran Idul Fitri aman dan saat ini seluruh infrastruktur telah disiagakan meliputi delapan Terminal BBM, lima Terminal LPG, lima depot pengisian pesawat udara dan lebih dari 1900 lembaga penyalur BBM se-Jawa Bagian Barat serta lebih dari 38 ribu lembaga penyalur LPG. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/wsj.
Foto: Bukan Solar Subsidi, Ini BBM yang Harusnya Diminum Innova-Fortuner. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa
Jakarta -

Pertamina membatasi pembelian bahan bakar minyak (BBM) subsidi. Mobil-mobil diesel seperti Innova-Fortuner haram menenggak solar subsidi. Dampaknya bisa merusak kendaraan.

Menurut Didi Ahadi, Head Dealer Technical Support PT Toyota-Astra Motor (TAM), mobil-mobil diesel yang dijual saat ini sudah mengadopsi standar emisi Euro 4. Untuk itu, diutuhkan BBM diesel yang lebih ramah lingkungan.

"Kalau solar khususnya Euro 4 disarankan menggunakan solar yang sulfurnya 50 ppm," kata Didi kepada detikcom belum lama ini.

Untuk itu, mobil-mobil diesel yang sudah menerapkan Euro 4 saat ini seperti Innova dan Fortuner harus menggunakan bahan bakar yang sesuai juga. Minimal, kendaraan itu menggunakan BBM diesel sekelas Pertamina Dex dengan kandungan sulfur maksimal 50 ppm.

Saat ini, Pertamina Dex sudah mengusung standar Euro 4. BBM jenis ini memiliki angka cetane number (CN) 53, lebih tinggi daripada Dexlite yang punya CN 51 dan solar CN 48.

"Kalau kita untuk 50 ppm, kalau kita ngomong Pertamina pakai Pertadex. Dexlite nggak masuk. Karena Pertamina Dex itu yang secara spesifikasi ya 50 ppm itu," ujar Didi.

Solar sendiri mengandung sulfur maksimal 2.500 part per million (ppm), sedangkan Dexlite maksimal 1.200 part per million (ppm). Sementara Pertamina Dex yang sudah Euro 4 saat ini memiliki kandungan sulfur maksimal 50 part per million (ppm).

Selain Pertamina, beberapa perusahaan migas swasta juga menjual BBM diesel yang ramah lingkungan. Misalnya Shell dengan produk Shell V-Power Diesel yang sudah menerapkan standar Euro 5 dengan kandungan sulfur 10 ppm.

"Kalau kita pakai BBM solar yang (maksimal) 50 ppm, itu nggak ada masalah. Asapnya, baunya beda, terus filter juga awet, mesin awet. berarti dibuktikan memang kalau menggunakan solar yang sesuai dengan peruntukannya insya Allah awet mesinnya," sebut Didi.

Jika menggunakan BBM yang tidak sesuai dengan kandungan sulfur tinggi, dampak jangka pendeknya adalah performa mesin akan berkurang. Emisi pun berbeda.

"Katakanlah di belakang mobil, kita mencium bau knalpot pasti berbeda. Bau dan warna (asap berbeda). (Jika pakai solar di bawah rekomendasi) lebih ada asap putih. Yang dikhawatirkan dari Toyota kalau menggunakan sulfur yang lebih tinggi dari 50 ppm akan menumpuk sulfurnya di catalytic converter. Numpuk di sana sehingga yang pasti emisinya kurang baik. Dan timbulnya asap putih di knalpot itu, sehingga yang kami khawatirkan adalah mengganggu visibilitas ke belakang, salah satunya itu juga," ucapnya.

Selanjutnya, dampak jangka panjang Fortuner-Innova jika menggunakan solar subsidi adalah kerusakan pada komponen mesin. Yang paling umum adalah filter cepat kotor dan tersumbat.

"Filter itu istilahnya supaya kotoran-kotoran nggak masuk ke commonrail, injector segala macam. Yang pasti juga, interval penggantian filter solar itu akan lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan yang semestinya. Kalau nggak cepat, berarti kan mampet, dikhawatirkan mampetnya itu bisa menjalar ke common rail sehingga paling parahnya ya injector mampet," jelas Didi.



Simak Video "Polling detikcom: Banyak yang Setuju Pertalite untuk Motor dan Kendaraan Umum"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT