ADVERTISEMENT

BMW 'Sunat' Fitur Ini Buntut Krisis Chip, Konsumen Nggak Rugi?

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Jumat, 01 Jul 2022 09:53 WIB
Melihat Perakitan All New BMW X3

Pekerja merakit mobil BMW All-new BMW X3 di BMW Production Network 2, PT Gaya Motor, Jakarta, Rabu (18/7). BMW Group Indonesia meningkatkan aktivitas produksinya dengan menambah investasi Rp20 miliar pada 2018, dana tersebut digunakan untuk memodernisasi jalur perakitan kendaraan yang diproduksi secara lokal di BMW Production Network 2, PT Gaya Motor. Grandyos Zafna/detikcom
Foto: Krisis chip masih melanda industri otomotif (Grandyos Zafna/detikcom)
Tangerang -

BMW Group Indonesia mengaku sangat terdampak dengan krisis chip semikonduktor. Strateginya, BMW 'menyunat' fitur-fitur yang dianggap tidak terlalu dibutuhkan oleh konsumen di Indonesia. Apakah konsumen tidak rugi kehilangan fitur-fitur itu?

Director of Communications BMW Group Indonesia, Jodie O'tania mengatakan, ada beberapa fitur yang diganti atau dihilangkan. Utamanya adalah fitur-fitur yang tidak terlalu dibutuhkan oleh pelanggan.

"Seperti misalnya surround sound, atau wireless charger yang paling banyak. Jadi (fitur-fitur) yang tidak terlalu dibutuhkan oleh pelanggan," ucap Jodie.

Menurutnya, dari BMW Group secara global sudah punya perencanaan. Dari perencanaan itu pihaknya sudah memaksimalkan untuk memenuhi permintaan konsumen.

"Pokoknya kita menjadi fokus itu pelanggan dapat mobilnya dulu. Alternatifnya adalah pengurangan fitur-fitur yang kurang relevan," katanya.

Jodie juga menegaskan konsumen tidak rugi karena kehilangan fitur-fitur yang 'disunat' imbas krisis chip semikonduktor. Sebab, fitur yang dihilangkan itu diganti dengan yang fitur lainnya.

"Apa yang diterima customer itu masih tetap sesuai dengan yang mereka bayar," ujarnya.

Adapun pengurangan fitur-fitur itu sudah berdasarkan riset. BMW Group Indonesia berdiskusi dengan pihak dealer untuk mengetahui fitur-fitur apa yang tidak dibutuhkan sehingga bisa dihilangkan.

"Bahkan (fitur) yang tidak pernah digunakan atau yang ada atau tidaknya tidak mempengaruhi pengalaman berkendara," jelas Jodie.

Selain pengurangan fitur, waktu tunggu pemesanan kendaraan atau inden BMW juga lama. Jodie mengatakan, indennya bisa lebih dari enam bulan.

"Pasti (inden). Inden kita sekarang lebih dari 6 bulan, tergantung modelnya. Kalau CKD (rakitan lokal) pasti lebih cepat. Seri 3 masih ada (stoknya), Seri 7 ada," ujar Jodie.

Meski waktu tunggu atau indennya cukup lama, BMW mengklaim peminat kendaraan BMW masih tinggi, walau Jodie tidak menyebutkan angkanya. "Bahkan justru sekarang banyak yang tidak ada stoknya. Responnya masih terus meningkat," katanya.



Simak Video "Krisis Chip Diprediksi Bikin Konsumen Bakal Sulit Punya Mobil Baru"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/lth)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT