Diskon PPnBM Diperpanjang, Lihat Harga Mobil Jadi Nggak Kaget

Ridwan Arifin - detikOto
Minggu, 13 Feb 2022 07:06 WIB
Kebijakan relaksasi Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP) cukup mendongkrak kinerja industri otomotif. Hal itu dikatakan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat membuka pameran GIIAS 2021 Kamis (11/11/2021).
Ilustrasi mobil yang mendapat perpanjangan diskon PPnBM DTP Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang membeberkan alasan insentif Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) diperpanjang. Salah satunya ialah meredam 'shock' penjualan mobil baru.

Seperti diketahui, kebijakan PPnBM DTP (Ditanggung Pemerintah) direalisasikan mulai 1 Maret 2021 hingga berlangsung pada Desember 2021.

Kemenperin mencatat penjualan mobil peserta insentif PPnBM DTP pada periode Maret hingga Desember 2021 sebanyak 519 ribu unit. Peningkatan penjualan mobil sebesar 113% dibandingkan tahun 2020.

Tahun ini pemerintah memutuskan untuk memperpanjang program tersebut, sejak 2 Februari 2022. Menperin menyebut, perpanjangan insentif masih berada dalam koridor keberlanjutan program Penanganan Pandemi Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN) 2022.

"Dilanjutkannya insentif PPnBM DTP tahun 2022 sekaligus akan mengurangi shock penjualan, serta dapat terus menjaga momentum pertumbuhan industri otomotif nasional, sekaligus meningkatkan utilisasi dan kinerja sektor industri komponen otomotif termasuk, industri kecil menengah," papar Menperin Agus dalam keterangan resmi dikutip Sabtu (12/2/2022).

Insentif diskon pajak PPnBM DTP dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 5/PMK.010/2022 tentang Pajak Penjualan atas Barang Mewah atas Penyerahan Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah berupa Kendaraan Bermotor Tertentu yang Ditanggung Pemerintah Tahun Anggaran 2022. Aturan itu berisi tentang desain insentif baru yang disesuaikan dengan kondisi pemulihan sektor otomotif ke depan.

Pada aturan tersebut, insentif PPnBM DTP kendaraan bermotor roda empat diberikan bagi kendaraan dengan kandungan komponen lokal minimal 80%. Ada dua segmen yang kendaraan bermotor yang mendapatkan insentif tersebut.

Segmen pertama, kendaraan bermotor dengan harga tertinggi Rp200 juta untuk kendaraan hemat energi dan harga terjangkau yang dikenal masyarakat sebagai Low-Cost Green Car (LCGC). Periode insentif untuk LCGC diberikan baik pada kuartal pertama, kedua, dan ketiga di 2022. Insentif diberikan dalam bentuk potongan PPnBM sebesar 100%, 66,66% dan 33,33% untuk masing-masing kuartal tersebut, sehingga PPnBM yang dibayar di kuartal pertama hanya sebesar 0%, kuartal kedua 1%, dan kuartal ketiga 2%.

Segmen kedua adalah kendaraan dengan kapasitas mesin sampai dengan 1.500 cc dengan harga antara Rp 200 - 250 juta. Segmen ini mendapatkan diskon PPnBM sebesar 50% pada kuartal pertama sehingga konsumen membayar tarif PPnBM hanya sebesar 7,5%.

Diberitakan detikcom sebelumnya, Pengamat Otomotif sekaligus Akademisi dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Pasaribu menyebut, jika relaksasi PPnBM disetop, maka pasar akan kaget karena terjadi kenaikan harga jual mobil.

"Hal itu pasti akan membuat siapa pun yang sudah memesan kendaraan akhir tahun 2021 dan baru menerima unit kendaraannya tahun 2022 awal akan kecewa, marah dan merasa dikadali," tutur dia.

"Dampaknya jelas, sales langsung drop dan para pemain besar yang sudah terlanjur menikmati comfortness ini akan stuck kembali. Sebab, pertumbuhan ekonomi Indonesia baru saja mulai bergerak tumbuh secara pelan. Jadi daya beli mereka belum baik-baik amat," terang dia.

Saat ini terdapat 21 perusahaan industri kendaraan bermotor roda empat atau lebih dengan kapasitas produksi sebesar 2,35 juta unit per tahun danmenyerap tenaga kerja langsung sebanyak 38 ribu orang. Total investasi yang telah tertanam di sektor otomotif mencapai Rp140 triliun.

Menperin menambahkan, proses manufaktur peserta program PPnBM DTP melibatkan sebanyak 319 perusahaan industri komponen Tier 1. Tentunya hal ini mendorong peningkatan kinerja industri komponen Tier 2 dan 3 yang sebagian besar termasuk kategori industri kecil dan menengah (IKM).

Terlibatnya IKM dalam industri komponen otomotif, diharapkan pula turut memberikan rangsangan pada peningkatan aspek ketenagakerjaan sektor industri manufaktur.
"Seiring dengan bangkitnya sektor industri pengolahan dari dampak pandemi, ada tambahan penyerapan tenaga kerja sebanyak 1,2 juta orang di tahun 2021 sehingga jumlah total tenaga kerja di sektor ini kembali meningkat ke angka 18,64 juta orang. Diharapkan penyerapan tahun ini terus bertambah," pungkasnya.



Simak Video "Sayang Banget, Mobil-mobil Ini Nggak Dapat Diskon PPnBM Lagi"
[Gambas:Video 20detik]
(riar/rgr)