Mobil Listrik, tapi Kok Energinya Masih dari PLTU Batu Bara? Begini Penjelasan PLN

Tim detikcom - detikOto
Senin, 22 Nov 2021 08:38 WIB
PT PLN (Persero) luncurkan aplikasi Charge-In. Aplikasi ini membantu pengguna kendaraan listrik mencari SPKLU terdekat hingga monitor pengisian daya.
Mobil listrik diklaim lebih ramah lingkungan meski listriknya dari PLTU. Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Kendaraan listrik disebut lebih ramah lingkungan karena tidak mengeluarkan emisi sisa pembakaran mesin. Namun, banyak yang meragukan 'kebersihan' kendaraan listrik lantaran pembangkit listriknya sendiri masih dihasilkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang menimbulkan emisi.

Meski begitu, PLN menyebut kendaraan listrik tetap lebih bersih walaupun listriknya dihasilkan dari PLTU. Hal itu dikatakan oleh Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini.

Bagi PLN, transisi sektor otomotif ke energi listrik bukan hanya meningkatkan demand listrik di saat kondisi suplai listrik mengalami surplus. Mobil listrik juga lebih unggul dibandingkan dengan mobil konvensional untuk dapat menuju Indonesia yang lebih hijau dan cerah di masa depan.


"Mobil listrik emisi karbonnya hanya 50 persen dibandingkan dengan mobil konvensional, meskipun listriknya berasal dari PLTU. Mobil listrik emisinya rendah dan juga bahan bakarnya tidak impor. Ini dua hal yang akan sangat mendukung pertumbuhan ekonomi kita ke depan," kata Zulkifli dalam keterangan tertulis.

Sebagai informasi, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batu bara masih menjadi andalan untuk memenuhi kebutuhan energi di Indonesia. Salah satu alasan utamanya, batu bara sejauh ini masih menjadi sumber energi termurah di negara ini.

Selain itu, pada uji jalan mobil listrik yang dilakukan langsung oleh jajaran direksi PLN beberapa waktu lalu, terbukti penghematan yang bisa didapat masyarakat dengan menggunakan mobil listrik.

Pada uji jalan tersebut, pengendara mobil listrik hanya perlu mengeluarkan Rp 10.000 untuk menempuh jarak 72 kilometer. Jika dibandingkan dengan Bahan Bakar Minyak (BBM), untuk jarak tempuh yang sama, masyarakat harus merogoh kocek sekitar Rp 60.000 dengan asumsi harga BBM Rp 9.000 per liter.

Dengan menggunakan mobil listrik, pemerintah bisa mengurangi beban Current Account Deficit (CAD) atau defisit transaksi berjalan yang terus tergerus dengan impor minyak mentah. Terlebih saat ini PLN memiliki cadangan daya atau reserve margin mencapai 35 persen.

"Dengan reserve margin yang begitu tinggi, mobil listrik mungkin bisa membantu dari sisi current account deficit," ucapnya.

Zulkifli menilai, pemerintah harus membuat kebijakan tambahan untuk mengakselerasi ekosistem kendaraan listrik. Salah satunya memberikan kebijakan yang lebih menarik untuk membeli mobil listrik dibandingkan dengan mobil konvensional.

"Kami berterima kasih bahwa pajak PPnBM mobil listrik sudah dihapus. Tetapi ada dua pajak lain, PPN dan PPH yang dinikmati mobil fosil yang saat ini belum dimiliki mobil listrik," ujarnya.



Simak Video "Dilema Mobil Listrik: Ramah Lingkungan, Tapi Jutaan Pekerjaan Hilang"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)