Round-up

Buntut Kasus Airbag Jeep Tak Keluar, Bos Garansindo Bakal Tuntut sampai Akhirat

Tim detikcom - detikOto
Kamis, 23 Sep 2021 12:53 WIB
Hasil Investigasi Mobil Jeep Bos Garansindo yang Ringsek tapi Airbag Tak Keluar
Kasus airbag Jeep tak mengembang membuat geram bos Garansindo Foto: Dok. PT DAS Indonesia Motor
Jakarta -

Stellantis merilis hasil investigasi Jeep Grand Cherokee milik CEO Garansindo Muhammad Al Abdullah yang mengalami kecelakaan tetapi airbag tak keluar. Dinyatakan tidak ada cacat produksi pada mobil tersebut. Tapi pria yang akrab disapa Memet ini tidak terima dengan hasil investigasi teknis. Menurutnya, proses hukum akan terus berjalan.

Kasus ini bermula dari mobil yang dikendarai Memet itu ringsek akibat kecelakaan di Jalan Tol Kanci arah Jawa Tengah, tepatnya pada Kamis (15/7/2021).

Saat kejadian, Memet menyetir mobil Jeep Grand Cherokee 3.6L Summit sendirian di Tol Kanci arah Jawa Tengah. Kronologinya, dia sedang melaju di lajur kanan tol tersebut. Tiba-tiba ada mobil Avanza yang mengerem mendadak.

Memet menyayangkan airbag Jeep Grand Cherokee yang tidak keluar saat kecelakaan. Selain itu, dia juga mempertanyakan fitur keamanan Active Brake Collision System (ABCS) yang dirancang untuk menghindari kecelakaan tidak berfungsi.

"Iya (ABCS) nggak fungsi. Makanya saya rem bejek abis," ucap Memet, CEO Garansindo, yang pernah menjadi agen pemegang merek (APM) Jeep di Indonesia.

Saat menginjak rem semaksimal mungkin, setir terbuang ke kiri. Nahas, di kiri ada truk kontainter dan dia menabrak truk kontainer tersebut.

Dalam foto yang dibagikan Memet, mobil ringsek pada bagian depan, setir mobil masih utuh, tetapi airbag tampak tidak keluar sama sekali. Diketahui, Jeep Grand Cherokee memiliki beberapa airbag, antara lain di bagian sopir dan penumpang depan, airbag untuk proteksi lutut pengemudi, hingga airbag tirai samping di baris pertama dan kedua.

Hasil Investigasi Mobil Jeep Bos Garansindo yang Ringsek tapi Airbag Tak KeluarHasil Investigasi Mobil Jeep Bos Garansindo yang Ringsek tapi Airbag Tak Keluar Foto: Dok. PT DAS Indonesia Motor

Somasi pada Agustus 2020

Memet melayangkan somasi kepada pihak Jeep untuk menindaklanjuti kecelakaan yang dialaminya pada 9 Agustus 2021. Dhani Yahya, COO DAS Indonesia Motor sebagai distributor resmi Jeep di Indonesia, sudah menerima somasi dari perwakilan Memet.

Pihak Jeep kemudian menarik mobil Jeep Grand Cherokee yang ringsek ke bengkel resmi dan sementara disimpan untuk kebutuhan investigasi.

Menurut Dhani, DAS Indonesia Motor sudah mengirimkan laporan kepada principal FCA terkait kecelakaan yang dialami Memet. Namun Dhani menegaskan proses investigasi ini memerlukan waktu, ditambah kondisi pandemi COVID-19 yang belum memungkinkan menerbangkan tim investigator FCA ke Indonesia.

"Klaim (dari Memet) tersebut kami terima. Kami membantu menyampaikan full report ke FCA (sebagai principal Jeep). Yang berhak menentukan product liability itu manufacture (setelah proses investigasi). Biasanya mereka mengirimkan timnya (untuk investigasi), tapi karena pandemi timnya tidak bisa terbang ke sini," jelas Dhani kepada detikcom melalui sambungan telepon.

Untuk diketahui, PT DAS Indonesia Motor sendiri baru memegang brand Jeep tahun lalu. Awalnya, merek Jeep dipegang oleh Garansindo yang dibawahi Memet. Pada 2018, Hascar mengambil alih Jeep dari Garansindo. Baru sejak November tahun lalu, PT DAS Indonesia Motor yang menjadi distributor resmi Jeep di Indonesia.

[Halaman berikutnya hasil investigasi hingga kekecewaaan Bos Garansindo]

Hasil investigasi

PT DAS Indonesia Motor, Dhani Yahya, COO dari Jeep Indonesia mengumumkan hasil yang ditemukan oleh tim investigasi dari Stellantis. Disebut mobil Jeep Grand Cherooke 3.6L Summit 2015 itu tidak mengalami cacat produksi.

Berikut hasil investigasinya yang dikutip dari Stellantis, pabrikan otomotif multinasional yang dibentuk oleh merger perusahaan Italia-Amerika, Fiat Chrysler Automobiles (FCA) dan perusahaan Prancis, PSA Group yang memegang merek kendaraan Jeep.

"Tidak ada tanggung jawab manufaktur yang ditemukan dalam insiden ini. Seat belt menjadi sistem penahan keamanan utama dalam kendaraan pada saat kejadian. Area tabrakan/tumbukan utama berada di bagian atas dari area fokus sensor Supplemental Restraint System bekerja, dengan energi benturan yang dihamburkan oleh berbagai struktur lembaran logam. Oleh karena itu, laju perlambatan yang diperlukan untuk mengaktifkan sistem airbag tidak terpenuhi," sebutnya dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Kamis (16/9/2021).

Dhani menyimpulkan, dari hasil investigasi Stellantis tidak mengungkapkan adanya indikasi cacat manufaktur yang menyebabkan dan/atau berkontribusi pada insiden yang dialami.

Tertulis dalam Buku Manual Kendaraan Jeep Grand Cherokee tahun 2014, halaman 73-74, ada beberapa sensor dan kontrol yang menentukan airbag mengembang atau tidak. Pertama dari Occupant Restraint Controller (ORC). ORC menentukan apakah diperlukan penyebaran airbag depan dan/atau samping dalam tabrakan depan atau samping. Berdasarkan sinyal sensor benturan, ORC akan mengeluarkan airbag depan, airbag lutut sisi pengemudi, airbag tirai samping, airbag samping, dan pretensioner sabuk pengaman depan, sesuai kebutuhan. Penyebaran airbag tersebut tergantung pada beberapa faktor, termasuk tingkat keparahannya dan jenis dampak.


"Karena sensor airbag mengukur perlambatan kendaraan dari waktu ke waktu, kecepatan dan kerusakan sendiri bukan indikator untuk mengetahui apakah airbag keluar atau tidak," tulis Jeep dalam buku manual Jeep Grand Cherokee tahun 2014.
ORC berisi sistem catu daya cadangan yang dapat mengeluarkan airbag bahkan jika baterai kehilangan daya atau terputus sebelum digunakan. Selain itu, ORC menyalakan Air Bag Warning Light di panel instrumen selama kurang lebih empat hingga delapan detik saat kunci kontak dihidupkan pertama kali. Setelah pemeriksaan tersebut, Lampu Peringatan Airbag akan mati. Jika ORC mendeteksi malfungsi di bagian mana pun dari sistem, ORC akan menyalakan Lampu Peringatan Airbag, baik sesaat atau terus-menerus.

Disebutkan, sabuk pengaman diperlukan untuk perlindungan dalam semua benturan. Sabuk pengaman juga diperlukan untuk membantu pengendara atau penumpang tetap pada posisinya, jauh sebelum airbag mengembang.

"Dengan temuan hasil investigasi teknis yang sudah diumumkan ini, kami harap pertanyaan penyebab insiden ini sudah dapat terjawab, dan sekali lagi kami sangat bersimpati atas insiden yang telah terjadi dan kami siap membantu konsumen untuk memperbaiki kendaraan tersebut hingga selesai." tutup Dhani melalui pengumuman resmi ini

Kekecewaan Bos Garansindo

Buntut dari hasil investigasi tersebut, bos Garansindo dan pihak kuasa hukumnya mempertimbangkan akan mengajukan gugatan dan juga mengadukan pihak Stellantis ke instansi terkait di Amerika Serikat, termasuk namun tidak terbatas pada FCA Apac Region Head, dan juga Badan Keselamatan Jalan Raya Amerika Serikat (NHTSA).

"Saya tidak terima dengan (hasil investigasi) mereka, seakan-akan selesai. Saya akan tuntut terus. Sampai ke akhirat pun akan saya tuntut," katanya kepada detikcom, Rabu (22/9/2021).

Memet tidak mengerti bagaimana tim dari Stellantis dapat mengambil kesimpulan mengenai hasil investigasinya. Padahal, tim tersebut, maupun PT DAS Motor Indonesia tidak pernah datang ke TKP, tidak pernah ada komunikasi dengan pihak Kepolisian (dalam hal ini Patroli Jalan Tol) yang menangani kecelakaan dan menerbitkan laporan kecelakaan lalu lintas.

"Pernyataan PT DAS Indonesia Motor yang menyatakan di media bahwa, 'Area tumbukan mobil Jeep Grand Cherokee itu tidak memicu sensor airbag' justru menunjukkan fitur sensor airbag tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Bagaimana mungkin kecelakaan dengan benturan yang membuat mobil Jeep Grand Cherokee tersebut ringsek dan rusak parah sedemikian rupa (sebagaimana foto-foto yang juga diakui PT DAS Indonesia Motor), ternyata masih tidak memicu sensor airbag?" kata kuasa hukum Memet melalui keterangan pers, Rabu (22/9/2021).

(riar/din)