Mercedes-Benz Mau Bawa Truk Listrik ke Indonesia, tapi....

Luthfi Anshori - detikOto
Kamis, 26 Agu 2021 12:49 WIB
Truk listrik Mercedes-Benz eActros
Foto: Daimler Trucks and Buses. Truk listrik Mercedes-Benz eActros.
Jakarta -

Mercedes-Benz siap membawa truk listrik, eActros, ke Indonesia. Namun untuk mewujudkan hal itu, masih banyak persyaratan yang harus dipenuhi. Salah satunya adalah kesiapan infrastruktur dan penerimaan pasar.

Pada 30 Juni 2021 Mercedes-Benz Trucks resmi meluncurkan truk listrik bernama eActros. Truk listrik ini memakai tenaga full baterai dan ditujukan untuk angkutan barang heavy-duty. Indonesia pun tertarik untuk memboyong kendaraan niaga minus asap itu.

"Kami mau banget (bawa eActros ke Indonesia) karena ini adalah suatu perubahan dimensi. Tapi di sisi lain kami juga masih mempelajari gimana cara kita untuk bawa masuk juga. Karena untuk tahun ini mereka memang masih konsentrasi untuk pasar Eropa, kurang lebih ada 12 pasar," buka Head of Product and Marketing, PT Daimler Commercial Vehicles Indonesia (DCVI), Faustina Tjandra, di Cakung, Jakarta Timur, Rabu (25/8/2021).

Menurut Faustina, pembentukan ekosistem kendaraan elektrik ini memang 'susah-susah gampang'. Meski jenis kendaraan ini memiliki keunggulan low carbon atau zero emission, masih mengalami banyak kendala untuk sampai di Indonesia. Contohnya adalah cara mendistribusikannya ke sini. Kemudian kalau sudah sampai di Indonesia, apakah infrastruktur pendukungnya juga sudah siap? Itu menjadi pertimbangan lain.

"Ngomongin soal overseas market, dia kan listrik ya. Contoh ngirim ke negara A overseas, selama di kapal 45 hari, how to take care the truck, itu kan juga menjadi pertimbangan. Kan biasanya cuma solar (mesin diesel), tapi ini listrik lho, itu satu," sambung Faustina.

"Kedua ke negara yang menerima, selain infrastruktur, hal yang simpel aja deh, charging station-nya. Nah itu dari lokal, sudah ada support belum. Karena kami sebagai APM, kami bukan expert dalam hal charging station, yang kami produksi kan bus dan truk. Berarti harus ada rekanan lokal yang paham cara membuat charging station. Karena kan beda charging station kendaraan kecil dengan kendaraan besar seperti truk dan bus," lanjutnya.

Truk listrik Mercedes-Benz eActrosTruk listrik Mercedes-Benz eActros Foto: Daimler Trucks and Buses

Yang tidak kalah penting adalah soal spek truk listrik Eropa dan di Indonesia. Perbedaan iklim dan budaya, akan sangat mempengaruhi cara penggunaan truk listrik di Indonesia, yang akhirnya berdampak ke kemampuan daya jelajah truk listrik itu sendiri.

"Misalnya dari segi muatan, tidak bisa pungkiri bahwa Indonesia itu kargonya berat, lebih berat dari standar Eropa pada umumnya. Kemudian dari segi AC, di Eropa mungkin tidak terlalu perlu sering pakai AC setiap kali truk jalan. Tapi di Indonesia harus (selalu nyala), sementara kapasitas AC itu energinya menyerap kapasitas baterai. Itu akan membedakan dengan cara penggunaan truk listrik di Eropa," ungkap Faustin.

"Jadi sebelum saya benar-baner handed over ini ke customer, banyak hal yang lagi kita benahi dulu. Dari segi APM-nya, lokalnya, dan dari segi acceptance-nya customer. Karena nggak bisa dipungkiri juga, harga truk listrik ini akan beda dengan truk konvensional. Jadi customer mana nih, kalau customer yang benar-benar masih hitung-hitungan dengan ongkos muatannya dia, itu mungkin masih akan jadi target jangka panjangnya dia. Kecuali kalau dari satu sisi pemerintah sudah menggenjot (kendaraan niaga listrik). Oke harus semua (kendaraan listrik) atau mungkin jika ada yang beli ini (truk listrik) tarifnya akan berbeda, itu mungkin akan jadi stimulus perangsang bagi customer," tukasnya.

Sebagai informasi, eActros ditenagai penggerak dua motor listrik terintegrasi bersama dengan transmisi dua kecepatan. Kedua motor listrik ini memberikan kenyamanan berkendara. Bergantung pada versinya, eActros mendapatkan dayanya dari tiga atau empat paket baterai masing-masing berkapasitas sekitar 105 kWh. Berkat kapasitas maksimum 420 kWh2, jangkauan truk ini hingga 400 kilometer. eActros dapat diisi hingga 160 kW, saat terhubung ke stasiun pengisian 400A DC, ketiga paket baterai perlu waktu lebih dari 1 jam untuk mengisi daya dari 20 hingga 80 persen.

[Gambas:Youtube]



(lua/din)