Krisis Chip Semikonduktor Pengaruhi Produksi BMW di Indonesia?

Luthfi Anshori - detikOto
Jumat, 18 Jun 2021 12:09 WIB
BMW Indonesia membuktikan komitmennya dengan mempeluas rangkaian kendaraan rakitan dalam negeri. Ini salah satu yang teranyar.

Setelah peluncuran 3 varian terbaru rakitan dalam negeri di awal tahun 2021, hari ini BMW Indonesia kembali perkuat rangkaian kendaraan BMW X dengan luncurkan model flagship BMW X7 xDrive40i Opulence dan varian tertinggi dari BMW X3 dengan memperkenalkan BMW X3 xDrive30i M Sport.
Krisis chip semikonduktor tak pengatuhi produksi BMW di Indonesia. Foto: BWM Indonesia
Jakarta -

Krisis chip semikonduktor mempengaruhi industri otomotif global, hingga mengganggu jalannya produksi beberapa brand mobil. Apakah kelangkaan part itu juga mempengaruhi produksi mobil di pabrik BMW di Indonesia?

Sebagai informasi, pabrik mobil BMW di Indonesia yang terletak di Sunter, Jakarta Utara, memproduksi beberapa model BMW secara CKD (Completely Knock Down). Model-model tersebut antara lain BMW Seri 3, Seri 5, Seri 7, X1, X3, X5, dan X7.

Director of Communications BMW Group Indonesia, Jodie O'tania, mengatakan jika produksi mobil BMW di global sejauh ini masih aman. Artinya, belum terganggu dengan isu kelangkaan chip semikonduktor.

"Sampai saat ini di global, kita sudah melakukan planning dari jauh-jauh hari. Jadi sampai saat ini belum ada masalah yang sampai--misalnya terhenti stoknya, itu belum ada--tapi memang ada mempengaruhi fitur, namun bukan fitur yang major di sebuah kendaraan," kata Jodie, kepada wartawan, di Jakarta, Kamis (17/6/2021).

Ditambahkan Vice President Sales BMW Group Indonesia, Bayu Rianto, produksi mobil BMW di pabrik Gaya Motor Sunter pun saat ini masih berlangsung. Namun, hanya saja, kelangkaan chip semikonduktor membuat satu fitur di mobil BMW jadi tidak bisa terpasang. Itu berlaku untuk produksi BMW global, termasuk produksi BMW di Indonesia.

"Jadi boleh dibilang, produksi kita aman, karena memang ada beberapa brand yang terpengaruh sampai stop produksi. Kalau kita untuk produksi aman. Cuma memang kita ada beberapa fitur yang ada hubungannya dengan itu (kelangkaan chip semikonduktor) tapi itu bukan major ya. Kalau major itu kan mobil nggak bisa jalan tanpa chip itu, tapi ini masih bisa. Fitur (yang terganggu) itu adalah wireless charging. Dan itu bukan menjadi sesuatu kebutuhan yang utama," kata Bayu.

BMW X7 xDrive40i OpulenceSoal isu kelangkaan chip semikonduktor, produksi BMW di Indonesia aman Foto: BMW Group Indonesia

Jodie kembali menjelaskan jika rencana produksi BMW global sudah dirancang jauh-jauh hari dan rencana itu tidak boleh sampai mengganggu jalannya produksi. "Karena kita (dan BMW global) harus planning supaya tetap tidak mempengaruhi permintaan. Jangan sampai stop sama sekali," ungkap Jodie.

Jodie juga menambahkan, ketika nanti pasokan chip semikonduktor sudah normal, konsumen BMW bisa mendapatkan fitur itu lagi wireless charging). Tapi di sisi lain, dia juga menegaskan bahwa isu kelangkaan chip ini bukanlah masalah yang bisa selesai dalam waktu cepat.

"Tapi masalah (kelangkaan chip semikonduktor) ini bukan masalah yang singkat ya. Pasti akan cukup lama, karena ini kan masalah global. Dan bukan hanya otomotif saja. Tapi semua, elektronik," sambungnya lagi.

Karena ada fitur yang 'tersunat', yakni wireless charging, BMW pun menjamin bakal mengkompensasinya dengan penggantian fitur lain, atau fitur wireless charging juga, namun dengan format portabel.

"Tapi kalau kayak wireless charging sebetulnya kita juga ada wireless charging portable. Jadi mungkin kita juga bisa subtitute dengan itu. Jadi secara major, mudah-mudahan tidak terganggu," ujar Bayu.

(lua/din)